PEKANBARU - Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau mencatat temuan 1.170 kasus positif Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang tahun 2025. Angka ini terkonfirmasi setelah instansi tersebut merampungkan pengujian terhadap 195.298 orang dari berbagai kalangan.

Kepala Diskes Riau, Zulkifli membeberkan, dari total ribuan temuan tersebut, angka penularan paling tinggi terjadi pada kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL). Tercatat, kelompok ini menyumbang sebanyak 462 kasus atau setara 39,48 persen dari total keseluruhan temuan positif.

Menyikapi tren kasus ini, Diskes Riau langsung mengaktifkan sejumlah langkah antisipasi edukatif. Salah satunya dengan menggandeng Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau untuk membekali para penghulu, penyuluh lintas agama mulai dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, hingga Buddha, serta para pengawas madrasah dan pesantren.

"Tujuannya agar mereka bisa menyampaikan pesan ke masyarakat terkait bahaya HIV, serta pentingnya memperkuat iman dan takwa di arus globalisasi saat ini," ujar Zulkifli, Kamis (23/7/2026).

Selain ranah keagamaan, upaya pencegahan juga dilakukan bersama Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) Cabang Pekanbaru. Kolaborasi ini menghasilkan edukasi pencegahan HIV dan Infeksi Penyakit Menular Seksual (IMS) yang menyasar 5.609 warga secara langsung dan serentak pada Januari 2026 lalu, sebuah kegiatan yang berhasil mencatatkan rekor MURI.

Tim kesehatan turut menyasar lingkungan akademis dengan menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau. Mereka menggelar audiensi ke deretan kampus besar di Kota Pekanbaru, yakni Unri, UIR, UIN, UMRI, PCR, Lancang Kuning, Abdurrab, dan Universitas Hang Tuah.

"Kami melakukan audiensi ke kampus-kampus tersebut untuk bekerja sama serta mendapat dukungan terkait pencegahan penularan HIV di lingkungan kampus," papar Zulkifli.

Sebagai benteng pertahanan terdepan, Diskes Riau turut melibatkan pengurus PKK Provinsi Riau dan PKK Kota Pekanbaru guna memaksimalkan peran keluarga agar terhindar dari perilaku berisiko yang berujung pada penularan. Di hilir pelayanan, fasilitas perluasan layanan pengobatan dan perawatan dukungan saat ini telah menjangkau 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. ***