PEKANBARU - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau bergerak cepat mengepung 216 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyala di Kabupaten Pelalawan. Ratusan personel gabungan bersenjata mesin pompa air dikerahkan secara terpadu guna mencegah meluasnya kobaran api di kawasan gambut tersebut.

Keputusan taktis ini dimatangkan dalam Rapat Penanganan Karhutla sekaligus persiapan audiensi dengan Menteri Kesehatan di Ruang Rapat Gubernur Riau, Minggu (23/8/2026).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto menginstruksikan seluruh elemen penanggulangan bencana agar segera menebalkan kekuatan personel, logistik, dan peralatan tempur di garis depan. Medan gambut yang kering, embusan angin kencang, serta minimnya pasokan air menjadi kendala nyata yang harus segera diatasi.

"Kita kumpulkan seluruh kekuatan yang ada dan kita arahkan ke lokasi yang memang membutuhkan. Yang terpenting sekarang bagaimana api segera padam dan jangan sampai berkembang menjadi lebih besar," tegasnya.

Tantangan Medan Gambut

Lebih lanjut, ia meminta perbantuan personel tambahan segera direalisasikan, termasuk pelibatan anggota Satpol PP. Kebutuhan dasar kelangsungan operasi pasukan penjinak api, mulai dari transportasi, pasokan air, makanan, hingga tempat istirahat yang layak, wajib dipastikan ketersediaannya.

Karakteristik geografis Pelalawan yang didominasi vegetasi rapat dan lahan gambut tebal membuat proses pemadaman kian menantang. Oleh sebab itu, ia menuntut agar sumber air buatan dan peralatan ditempatkan sedekat mungkin dengan episentrum kebakaran. Seluruh pihak juga diingatkan agar tidak lengah dan tetap bersiaga menghadapi puncak kemarau hingga bulan November mendatang.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadaman Kebakaran (BPBDPK) Provinsi Riau, Edy Afrizal, membenarkan bahwa Pelalawan kini berstatus sebagai zona merah yang menyita perhatian utama. Titik api di sejumlah lokasi terpantau mulai menjalar ke area dengan vegetasi lebat.

"Peralatan untuk mendukung ketersediaan sumber air terus kita tambah. Saat ini sekitar 15 unit telah disiapkan untuk membantu operasi di lapangan," urainya.

Sinergi Pasukan Bantuan

Edy mencatat sedikitnya 100 personel lintas instansi telah berjibaku memadamkan api. BPBDPK terus mengevaluasi pergerakan dan kebutuhan tambahan personel dengan merujuk pada dinamika arah angin serta kondisi di lapangan.

Di sisi lain, Kepala Satpol PP Provinsi Riau, Sri Sadono menyatakan pasukannya bersiaga penuh menyambut instruksi perbantuan di lokasi bencana. Mobilisasi anggotanya akan disesuaikan dengan skala prioritas dan tingkat kesulitan akses armada transportasi menuju titik api.

Mobilitas menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau menuntut kesiapan kendaraan operasional yang tangguh. Sinergi lintas sektor ini ditargetkan mampu menutup celah kelelahan tim pemadam inti dan menghindari tumpang tindih tugas di lapangan.

"Satpol PP siap membantu sesuai kebutuhan dan kemampuan personel yang tersedia. Kami akan berkoordinasi agar pengerahan dapat dilakukan secepat mungkin," pungkasnya. ***