RENGAT, GORIAU.COM - Blok Kampar harus segera diambil alhi oleh Pemkab Indragiri Hulu, Riau, jika tidak masyarakat Inhu hanya akan menjadi penonton di negeri yang kaya. Bahkan hingga 20 tahun ke depan masyarakat Inhu akan menyesal atas pengambilan sumberdaya alam yang dimiliki.

Pernyataan dan penegasan ini bukan berasal dari orang yang tak tahu perminyakan, tapi justru dari para pensiunan karyawan PT Medco E & P dan Pertamina UBEP Lirik yang tergabung dalam Forum Masyarakat Lirik untuk Rebut Blok Kampar. Mereka terdiri dari para pekerja yang sudah memahami betul bisnis perminyakan.Kondisi ini disampaikan para pensiunan karyawan PT Medco dan Pertamina UBEP Lirik saat menggelar pertemuan dengan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Inhu yang juga Plt Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Khairizal serta pertemuan dengan Wakil Ketua DPRD Inhu Arwan Citra Jaya, Senin (26/11/2012).Pensiunan karyawan PT Medco dan Pertamina yang tergabung dalam Forum Masyarakat Lirik untuk Rebut Blok Kampar itu antara lain ada nama H Asril Husin mantan Kabag Produksi yang juga pernah menjabat Field Manager Area dan H Yursal mantan Teknikal Produksi.Selain itu, juga ada H Junaidi Jamal mantan Assisten Manajer Pertamina, Johan Wihantau mantan Kabag Personalia dan Maintanance Pertamina, H Nafsir mantan Production, H Samijo mantan Kabag Transportation dan Mekanikal, H Agus mantan Supervisor Kelistrikan, Sofyan Heri dan H Baharudin mantan Oil Accounting, Edi Enginereeng Tecnikal serta Jhony Setiawan Mundung yang merupakan tokoh pemuda masyarakat Desa Lambang Sari V Kecamatan Lirik.''Ini kesempatan bagi Pemkab Inhu untuk mengambil alih Blok Kampar yang kontrak kerja eksploitasi dengan PT Medco akan berakhir 5 Juli 2013 mendatang. Jika kesempatan ini hilang, maka Inhu hanya akan kembali menjadi penonton hingga 20 tahun kedepan. Ini tentu sangat menyedihkan bagi anak cucu kita,'' tegas salah seorang anggota Forum Masyarakat Lirik untuk Rebut Blok Kampar, Jhony Setiawan Mundung.Menurut Jhony, selama puluhan tahun, ladang minyak Blok Kampar yang berada di Kabupaten Inhu, Pelalawan dan Siak tersebut dikelola oleh PT Stanvac dan PT Medco E&P. Namun menyusul akan berakhirnya kontrak kerja eksploitasi dengan PT Medco, maka daerah khususnya Kabupaten Inhu dan Pelawan memiliki peluang untuk mengambil alih sesuai dengan pasal 12 UU No 22 tahun 2011 tentang Migas.''Namanya saja Blok Kampar, tapi lokasinya berada di Kabupaten Inhu, Pelalawan dan Siak. Namun yang dikelola hanya di Inhu dan Pelalawan. Dari data yang kita miliki, produksi di Pelalawan mencapai 1.010 barrel per hari, sedangkan di Inhu mencapai 512 barrel per hari. Tetapi SDM di Inhu lebih siap karena merupakan para pekerja di bidang perminyakan yang sudah berpengalaman puluhan tahun,” tambahnya.Jhony menambahkan, untuk merebut Blok Kampar, Pemkab Inhu harus membentuk tim perjuangan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Sebab banyak perusahaan yang tertarik untuk mengelola Blok Kampar seperti Pertamina, Medco sendiri serta beberapa perusahaan perminyakan lainnya yang sudah berpengalaman. “Selain itu untuk merebut Blok Kampar dibutuhkan dukungan politik, sebab SDA minyak menjadi rebutan banyak pihak,” jelasnya.Sementara itu, mantan Asisten Field Manajer Pertamina UBEP Lirik Junaidi Jamal mengungkapkan bahwa pensiunan karyawan PT Medco dan Pertamina yang mendesak Pemkab Inhu untuk mengambil alih pengelolaan Blok Kampar semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat dan peningkatan pembangunan di Inhu. Sebab sejak puluhan tahun lalu, Inhu hanya sebagai penonton atas kekayaan SDA yang dimilikinya.“Kami melakukan ini bukan karena ingin mencari kerja. Semua ini didorong keinginan dan niat baik kami bagi masyarakat Inhu.  Kami selaku orang yang pernah berkecimpung di dunia perminyakan siap mendukung Pemkab Inhu, sebab inilah kesempatannya,” tegas Junaidi.Ditegaskannya, untuk merebut pengelolan Blok Kampar, dibutuhkan kerja keras dan kesamaan visi dari semua pihak. Apalagi waktu yang tersisa hanya sekitar 6 bulan. “Saya jamin produksi di Blok Kampar dapat ditingkatkan asalkan dapat dikelola dengan baik. Bahkan dari hitungan kami, keuntungan yang mampu dihasilkan untuk daerah mencapai Rp 76 miliar per tahun. Itu hanya dari hasil produksi saja dan di luar DBH,” ucapnya.Junaidi mengungkapkan bahwa Pemkab Pelalawan memiliki respon yang baik dan telah meminta para pensiunan PT Medco dan Pertamina untuk memberi masukan kepada mereka. Namun pensiunan PT Medco dan Pertamina masih memprioritaskan di Inhu terlebih dahulu. “Nanti kita tetap harus melibatkan Pemkab Pelalawan, karena Blok Kampar juga berada di sana,” tegasnya. (wsr)