PADANG – Musibah banjir bandang atau Galodo yang menerjang sejumlah kawasan di Provinsi Sumatera Barat, masih menyisakan sejumlah permasalahan. Salah satunya, seperti yang dialami warga Dusun Duo Koto, Kanagarian Malalo, Kabupaten Tanah Datar.

Hingga saat ini, sekitar 1.300 warga dusun tersebut masih dalam kondisi terisolir. Hal itu disebabkan jalan utama menuju dusun tersebut tidak bisa dilintasi. Badan jalan yang biasanya menjadi akses warga dusun itu, kini menghilang dan berubah wujud menjadi gundukan tanah dan batu.

“Sama sekali tak bisa dilintasi kendaraan, karena seluruh badan jalan sudah hilang tertutup material yang dibawa Galodo,” ungkap Masnaidi, warga setempat, Jumat (5/12/2025).

Lebih lanjut, pria yang juga ditunjuk sebagai Koordinator Lapangan Penanggulangan Bencana Ikatan Keluarga Malalo tersebut mengungkapkan, biasanya warga Dusun Duo Koto harus melintasi Jurong Guguak Malalo, bila hendak bepergian ke kawasan lain.

Namun setelah kawasan itu diterjang Galodo pada Jumat pekan kemarin, badan jalan tersebut menghilang akibat tertimbun.

Dari pantauan lapangan, panjang jalan akses yang hilang tersebut mencapai sekitar 300 meter. Badan jalan itu telah berubah wujud menjadi gundukan tanah yang bercampur dengan bebatuan.

“Kalaupun mau dilintasi, harus manual (jalan kaki, red), jadi lumayan jauh,” tambahnya.

Dikatakan Masnaidi, hingga saat ini proses perbaikan belum mencapai kawasan itu, karena jaraknya yang lumayan jauh.

“Yang di sini (Guguak Malalo, red) belum sepenuhnya pulih. Kita berharap alat berat dengan petugas ditambah supaya perbaikan bisa lebih cepat,” harapnya.

Sementara itu, proses pembersihan rumah dari sisa-sia Galodo di Jurong Padang Laweh dan Guguak Malalo, saat ini mulai menampakkan hasil. Sejumlah rumah yang sebelumnya dipenuhi material longsor, saat ini sudah tampak bentuk aslinya. “Mudah-mudahan cuaca terus membaik, jadi kita bisa terus bersih-bersih hingga rumah sudah bisa dihuni lagi,” ujarnya.

Rumah Lenyap

Senada dengan warga yang sempat ditemui sebelumnya, Masnaidi juga mengakui Galodo saat ini adalah yang paling dahsyat.

“Rumah saya juga tidak ada lagi, ikut hanyut diseret Galodo,” ujarnya tercenung.

Saat ini, memang belum banyak yang bisa dilakukan masyarakat di kawasan itu. Semua masih terkonsentrasi untuk perbaikan dan pemulihan kondisi pasca Galodo.

Pihaknya berharap, proses perbaikan di kawasan itu berjalan lancar sehingga masyarakat bisa kembali menata kehidupan mereka.

Bantuan memang masih diharapkan, karena bisa dikatakan harta benda yang tersisa sangat minim. Semua musnah dihantam Galodo. ***