PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat total realisasi investasi menyentuh Rp12,85 triliun selama triwulan pertama tahun 2026. Angka tersebut menempatkan provinsi ini di urutan ke-15 secara nasional.

Kepala DPMPTSP Riau, Vera Angelika merinci, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menduduki peringkat ke-10 nasional dengan capaian Rp9,6 triliun. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar 197,01 juta dolar AS atau setara Rp3,25 triliun.

"Realisasi investasi Triwulan I 2026 sebesar Rp12,85 triliun ini menunjukkan bahwa Riau tetap menjadi daerah yang menarik bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama di wilayah Sumatera," ujar Kepala DPMPTSP Riau, Vera Angelika, Rabu (13/5/2026).

Secara regional di Pulau Sumatera, Riau menempati posisi ketiga teratas baik untuk kategori PMDN maupun PMA. Kontribusi arus modal ini masih terpusat di beberapa wilayah strategis dengan Kota Dumai sebagai penyumbang tertinggi yang mencapai Rp3,05 triliun atau 23,70 persen dari total investasi.

Kota Pekanbaru menyusul di urutan kedua dengan kucuran dana Rp2,55 triliun, lalu Kabupaten Indragiri Hilir Rp1,74 triliun, Kabupaten Rokan Hilir Rp1,13 triliun, dan Kabupaten Pelalawan menyumbang Rp1,04 triliun.

"Dari sisi investor asing, Singapura masih menjadi mitra utama dengan kontribusi 70,77 persen atau sekitar Rp2,3 triliun. Disusul Malaysia, serta Bermuda, Seychelles, dan Kepulauan Virgin Inggris," paparnya.

Arus modal yang masuk ditopang oleh lima sektor utama yang merepresentasikan kekuatan struktur ekonomi daerah. Industri makanan mendominasi dengan nilai Rp2,825 triliun, disusul sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan sebesar Rp2,24 triliun.

Sektor industri kimia dan farmasi turut menarik dana segar Rp1,83 triliun, perumahan dan kawasan industri Rp1,12 triliun, serta pertambangan Rp1,05 triliun. Kelima sektor unggulan ini berkontribusi lebih dari 70 persen terhadap keseluruhan penanaman modal.

Ke depan, arah kebijakan difokuskan pada penguatan hilirisasi demi mendongkrak nilai tambah ekonomi lokal.

"Kami terus mendorong pengembangan industri hilir. Saat ini DPMPTSP bersama perangkat daerah tengah mengidentifikasi produk-produk hilir dari perusahaan PMA dan PMDN, agar Riau semakin kuat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah dan ekonomi hijau," jelasnya.

Langkah strategis ini sejalan dengan sejumlah proyek infrastruktur yang sedang berjalan, seperti kelanjutan Tol Lingkar Pekanbaru ruas Rengat–Pekanbaru, pengembangan Kawasan Industri Buruk Bakul, serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 gigawatt di Pulau Rangsang.

"Proyek-proyek ini akan menjadi pengungkit investasi ke depan, memperkuat konektivitas, menarik industri pengolahan, serta mendukung transisi energi bersih di Riau," tambahnya.

Pemerintah daerah juga berupaya meningkatkan kualitas layanan publik lewat penguatan sumber daya manusia demi menjaga iklim usaha yang baik.

"Dengan pelayanan yang semakin prima, kami optimistis iklim investasi akan semakin kondusif, dunia usaha berkembang, dan peluang kerja bagi masyarakat terus terbuka," ungkapnya. ***