
PEKANBARU, GORIAU.COM - Isu terkait kelanjutan pengelolaan Blok Siak, Riau, setelah pada 27 November 2013 kontrak PT Chevron Pasific Indonesia bakal berakhir kian memanas. Pemerintah Daerah Provinsi Riau mengklaim telah mendapat sinyal kelanjutan kontraknya jatuh ke tangan badan usaha daerah bekerjasama dengan PT Pertamina. Benarkah?
Walaupun benar, Chevron justru menanggapinya dengan dingin. Perusahaan ini mengaku masih akan menunggu keputusan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terkait kelanjutan pengelolaan ladang minyak tersebut. "Sejauh ini kami belum mendapatkan informasi tentang putusan pemerintah sehubungan dengan pengelolaan Blok Siak setelah kontrak selesai," kata Manager Komunikasi Chevron Wilayah Riau, Tiva Permata kepada wartawan di Pekanbaru, Sabtu siang (23/11/2013).
Sebelumnya Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Dearah Provinsi Riau, Burhanudin, mengatakan, pengelolaan Blok Siak rencananya akan diambil alih oleh PT Pertamina.
Burhanudin mengatakan, itu merupakan informasi yang diterima dirinya dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, namun belum merupakan keputusan resmi.
Ia mengatakan, pengelolaan ladang minyak tersebut nantinya akan bekerjasama antara Pertamina dangan pemerintah daerah melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Konsepnya menurut dia persis sama dengan Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako (BSP) di Kabupaten Siak.
Jika informasi itu benar, apakah daerah bakal lebih diuntungkan?
Selama ini, pengelolaan ladang minyak oleh pemerintah daerah dengan membentuk badan usaha khusus di Riau telah dilaksanakan.
PT Bumi Siak Pusako (BSP) misalnya. Ini merupakan perusahaan daerah di Provinsi Riau yang mengelola Blok CPP (Coastal Plain Pekanbaru) mulai 2002, setelah kawasan itu sebelumnya dikuasai PT Chevron Pasific Indonesia.
BSP menggandeng PT Pertamina Hulu dengan membentuk Badan Operasi Bersama (BOB) untuk mengelola Blok CPP, dengan menandatangani Kontrak Kerja Sama (KKKS) pada 6 Agustus 2002. Produksi minyak ternyata terus turun signifikan dari tahun ke tahun, setelah sebelumnya sempat mencapai 34.000 barel per hari pada 2003.
Perusahaan itu sekarang hanya mendapat target dari pemerintah sebesar 15.800 barel minyak per hari. Parahnya, berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), produksi BOB-BSP sejak Januari sampai Maret, rata-rata terhitung hanya 14.869 barel per hari.
Kondisi itu menurut pakar perminyakan malah justru mendatangkan kerugian besar bagi daerah. Investasi yang seharusnya bisa memberikan kontribusi maksimal malah justru mengecewakan. Blok CPP hanya tinggal menunggu 'kering' dan tak lagi menghasilkan apapun.
Lantas bagaimana dengan Blok Siak?
Sampai dengan saat ini, dikabarkan Blok Siak hanya menghasilkan 1.600 sampai 2.000 barel minyak bumi mentah per hari, dengan asumsi satu barel setara dengan 158,987 liter. Kontrak bagi hasil (production sharing contract) di Blok Siak berlaku sejak 1991 selama 22 tahun, artinya akan habis pada 27 November 2013.
Chevron sejauh ini juga berupaya mengembangkan multi teknologi untuk mempertahankan produksi minyak bumi yang mengalami grafik pemerosotan setiap tahun. Setidaknya, pengembangan teknologi dapat lebih mengoptimalkan produksi minyak bumi yang kita sama ketahui setiap tahunnya memang mengalami grafik penurunan produksi.
Muti teknologi yang dimaksud, yakni teknologi penyesuaian dengan lapangan minyak yang dikelola perusahaan di Riau, Indonesia, ataupun di berbagai negara lainnya.
Pengamat migas dari Universitas Islam Riau (UIR), Adi Novriansyah, menduga keputusan Chevron terus mempertahankan Blok Siak karena belajar dari pengalaman lepasnya CPP Blok dan Blok Langgak.
Sebabnya, keberadaan BUMD Riau di dua blok minyak itu ternyata memberi efek kurang baik karena mereka masih menumpang fasilitas pembangkit listrik dan pipa penyalur minyak yang sama.
Ia menyatakan sudah bukan rahasia lagi bahwa petinggi Chevron sempat mengeluhkan kepada SKK Migas perihal dua BUMD itu menunggak pembayaran biaya dan pajak penggunaan fasilitas, padahal Chevron sudah menalangi pembayarannya ke pemerintah.
Siapkah Chevron Melepas Blok Siak?
Terkait isu tentang pengelolaan Blok Siak diambil alih oleh perusahaan daerah dan Pertamina, Manager Komunikasi Chevron, Tiva Permata mengaku belum mengetahuinya.
Yang jelas, demikian Tiva, sejak beberapa waktu lalu Chevron telah siap dengan berbagai kemungkinan.
Untuk diketahui, kata dia, Chevron memiliki komitmen untuk terus bermitra dan berinvestasi di Indonesia. "Chevron juga percaya bahwa pemerintah akan memberikan putusan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini," katanya.(fzr)