TELUKKUANTAN - Aksi damai yang digelar guru di Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Rabu (11/1/2017) lalu sempat memimbulkan beberapa Ketegangan. Dari catatan GoRiau.com, setidaknya ada lima peristiwa yang cukup menegangkan.
1. Jomaris, Ketua PGRI Kuansing Tak Terima DihujatKetika para guru sampai di Lapangan Upacara Kantor Bupati Kuansing, unjuk rasa mulai memanas. Pasalnya, seorang orator menghujat dan mencari maki Jomaris, Ketua PGRI Kuansing yang hadir bersama demonstran.
Tak terima dengan hujatan tersebut, Jomaris langsung merebut mikrofon sang orator. Saat itu juga, Jomaris bersitegang dengan anggotanya.
Wajah kesal terlihat dari Wajah Jomaris saat itu. Bahkan, dengan keras ia menghardik oknum guru tersebut supaya berbicara yang sopan.
Akhirnya, beberapa guru yang ditunjuk sebagai orator dan koordinator aksi melerai keduanya. Hingga suasana kembali kondusif.
2. Muharman Selaku Sekda Disoraki dan Ada yang Mengejarnya
Pemerintah Kabupaten Kuansing langsung merespons unjuk rasa guru yang menuntut Tunjangan Profesi Guru (TPG). Wakil Bupati Kuansing, H. Halim bersama Sekda Muharman menjumpai demonstran.
Ketika Muharman memberikan jawaban terkait dana TPG, hampir seluruh demonstran menyorakinya. Beberapa kali ia mencoba menenangkan massa, namun tak ada yang mendengar.
Puncaknya, seorang guru sempat mengejar Muharman yang berdiri di atas podium upacara. Beruntung, Satpol PP dan polisi mampu mengamankan situasi. Kemudian, Sekda bersama Wabup meninggalkan demonstran.
3. Guru Mendapat Peringatan Keras dari Kapolres Kuansing
Setelah Salat Dzuhur dan makan siang, ribuan guru kembali menggelar unjuk rasa. Massa meminta anggota DPRD menemui mereka di lapangan upacara.
Kapolres Kuansing, AKBP Dasuki Herlambang, SIk, MH langsung berkoordinasi dengan Andi Putra, SH, MH selaku Ketua DPRD. Andi bersama beberapa orang anggotanya meluncur ke lokasi.
Saat Andi menyampaikan tanggapan, demonstran kembali bersorak dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas.
Melihat kondisi ini, Kapolres Kuansing langsung mengambil alih mikrofon. Ia meminta agar guru tertib mendengarkan pemaparan dari DPRD.
"Ibu bapak ini guru, tolong berbicara yang santun," teriak Dasuki dengan keras. Akhirnya, para guru yang berdemo terdiam.
4. Di DPRD Kuansing, Perwakilan Guru Sempat Emosi
Ketegangan kembali terjadi. Kini, ruang hearing DPRD Kuansing yang menjadi saksinya. Saat itu, perwakilan guru audiensi dengan DPRD Kuansing. Juga hadir Sekda Kuansing selaku perwakilan pemerintah.
Saat itu, juru bicara guru tak hanya menyampaikan persoalan TPG. Melainkan memberi penilaian terhadap DPRD yang dinilainya lebih banyak mengemukakan kepentingan partai.
Mendengar hal itu, Rustam Effendi selaku Anggota DPRD meminta guru untuk menyampaikan apa yang menjadi tuntutannya. Begitu juga dengan Musliadi, yang meminta guru supaya tak membicarakan persoalan lain.
Perwakilan guru pun langsung bereaksi. Beberapa orang guru sempat berdiri dan suasana menjadi ricuh.
Situasi ini dapat dikendalikan oleh Andi Putra. Kondisi kondusif hingga berakhirnya audiensi.
5. Musliadi Vs Ahdanan Shaleh
Usai audiensi, Musliadi selaku Ketua Komisi A DPRD Kuansing langsung menghampiri Ahdanan Shaleh, guru yang menjadi Ketua Forkogip.
Musliadi mempertanyakan maksud dari tudingan-tudingan Ahdanan Shaleh yang ditulisnya di Facebook. Musliadi menilai tudingan itu mendeskriditkan dirinya.
Awalnya Musliadi menanyakan hal itu dengan baik-baik. Namun, reaksi lain ditunjukkan oleh Ahdanan, sehingga keduanya cek cok.
Pertengkaran keduanya cepat dilerai oleh anggota DPRD lainnya. Ahdanan pun pergi meninggalkan gedung DPRD. *** #KUANSING