JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan awal pekan dengan koreksi tipis. Mengacu pada data Bloomberg, Senin (24/8/2026) hingga pukul 09.54 WIB, mata uang Garuda bertengger di level Rp17.698 per USD. Posisi ini turun empat poin atau 0,02 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya di angka Rp17.694 per USD.

Kondisi serupa juga terlihat dari catatan Yahoo Finance. Pada rentang waktu yang sama, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.700 per USD. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebanyak 15 poin atau setara 0,08 persen dibandingkan level sebelumnya yakni Rp17.685 per USD.

Dinamika Harga Minyak Dunia

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova memproyeksikan pergerakan mata uang domestik ini masih memiliki peluang untuk bangkit, meski dalam rentang yang terbatas.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis di kisaran Rp17.650-Rp17.700 dipengaruhi oleh global menjinaknya harga minyak dan mata uang kawasan regional yang mayoritas menguat," jelasnya, dikutip dari Antara.

Sebagai informasi, harga minyak mentah jenis Brent saat ini sudah menyusut lebih dari 13 persen hingga berada di bawah USD90 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini dipicu oleh proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global, sejalan dengan kebijakan pengetatan moneter yang masih dipertahankan oleh mayoritas bank sentral di berbagai negara.

Kewaspadaan Terhadap Aliran Modal Asing

Dari sisi domestik, fokus pelaku pasar kini tertuju pada laporan kinerja neraca berjalan Indonesia. Berdasarkan data, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk triwulan II-2026 mencatat defisit sebesar USD0,9 miliar. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan defisit pada triwulan I-2026 yang sempat menembus USD9,1 miliar.

Meski terdapat penyempitan defisit, kondisi ini dinilai masih rentan. Pasalnya, stabilitas tersebut banyak ditopang oleh hot money, yakni aliran modal spekulatif jangka pendek yang bergerak cepat mencari tingkat suku bunga paling menguntungkan.

"Hot money sangat deras masuk ke pasar keuangan Indonesia, dipengaruhi oleh naiknya yield obligasi pemerintah AS terutama yang jangka panjang, yang berarti naiknya yield, turunnya minat pelaku pasar," urainya. ***