
JAKARTA – Muhammad Syaeful Mujab atau akrab disapa Mujab lahir dan tumbuh di keluarga prasejahtera. Meski lahir dan dibesarkan di tengah keluarga dengan keterbatasan ekonomi, Mujab tetap berharap bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
Dikutip dari Sindonews.com, sejak Mujab kelas I SMP, ibunya merantau ke Malaysia. Ibunya memutuskan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di negeri jiran itu agar bisa menyekolahkan anaknya.
Mujab mengatakan, meski selalu mendapatkan beasiswa dari #UangKita saat dia sekolah, namun ibunya tetap bekerja di Malaysia demi memenuhi kebutuhan hidup.
Tak ingin ibunda tercintanya berjuang sendiri, Mujab pun mencari penghasilan tambahan semasa dia kuliah di Universitas Indonesia (UI).
"Buat bantu survive, apalagi pas kuliah di UI aku dikit-dikit ngajar les, ikutan lomba sana-sini biar dapet uang, sama jadi MC acara-acara sampe wedding," kata Mujab.
Ya, Mujab adalah alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Baginya, memilih kuliah di UI bukan juga hal yang mulus. Sebab para anggota keluarganya lebih mendorong Mujab untuk kuliah di sekolah kedinasan yang kuliahnya gratis.
Restu sang ibu menguatkan hatinya dan menuntaskan pilihannya untuk studi itu. Ibunya pun terus bekerja walau di negeri orang demi alasan sederhana, agar anaknya bisa terus sekolah.
"Bicara soal pendidikan, ibu jujur ga knowledgeable. Pas aku pamer IPK semester 1 aja beliau malah nanya balik 'kok nilainya dikit sekali mas', alias ngertinya IPK itu paling gede itu 100 atau 10, bukan 4," cerita Mujab.
Kesempatan berkuliah di Kampus Perjuangan itu tak pernah disia-siakan Mujab. Berbagai tantangan ia jajal termasuk menjadi Presiden BEM UI. Meskipun berpotensi memundurkan timeline kuliahnya, lagi-lagi restu ibu menguatkan pilihannya.
Pengorbanan yang harus Mujab lakukan demi nyalon sebagai Ketua BEM UI adalah harus kehilangan kesempatan lulus cumlaude. Namun dia tetap melaju karena ingin belajar memimpin dan mengabdi meskipun dia harus menambah semester kuliah untuk mencalonkan diri.
“Yang penting jangan telat sholat”, pesan Ibunya.
Tirakat puasa yang dijalani sang ibu pula yang mengantarkannya menyabet gelar juara Abang DKI pada 2018 lalu.
"Memang benar kalau punya orang tua suportif dan percaya 100 % terhadap keputusan hidup yang kita ambil itu bakal jadi privile banget. Meski soal yang berkekurangan, tetapi support dari ibu itu jadi privilege banget buat aku," tuturnya.
Berkat beasiswa LPDP, Mujab bisa melanjutkan kuliah S2 Development Studies ke London School of Economics and Political Science, salah satu universitas jurusan soshum terbaik dunia.
"Kepercayaan terhadap kebijakan sosial ini yang bikin aku ambil Development Studies di LSE sampai ambil topik disertasi soal kebijakan sosial," ujarnya.
Kini Mujab telah menuntaskan studi lanjutnya pada bidang Development Studies.
Lahir di lingkaran kemiskinan memotivasi dirinya untuk bergerak maju, privilese kepercayaan dan kebebasan, serta dukungan dan restu ibu adalah rumus utama pembuka kesuksesan.***