
PEKANBARU - Gempuran raksasa teknologi global dan pergeseran drastis perilaku audiens telah memaksa industri pers lokal berada di ujung tanduk. Di tengah absennya regulasi yang memayungi hak-hak pembuat konten, ekosistem informasi kini menyerupai rimba belantara dimana platform media sosial leluasa mengeruk keuntungan dari karya jurnalistik anak bangsa.
Kondisi carut-marut ini dibedah secara tajam oleh Akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Riau (Unri), Dr Suyanto, SSos MSc PhD dalam diskusi bertajuk 'Tantangan dan Masa Depan Pers Riau' yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) d Gedung PWI Riau, Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Selasa (15/9/2026).
Akademisi ini juga memaparkan bahwa media cetak pernah mengecap masa keemasan di akhir era 2000-an, dimana oplah sebuah surat kabar lokal bisa menembus 60.000 eksemplar. Namun, lanskap itu kini luluh lantak oleh gempuran digitalisasi yang sangat sulit diprediksi pergerakannya.
"Media digital saat ini bersifat global dan kita beroperasi seolah di alam tanpa aturan yang mengikat ketat. Regulasi lama seperti Undang-undang Pers peninggalan tahun 1999 sudah tidak mampu mengawal dinamika konvergensi hari ini," urainya di hadapan puluhan pimpinan media.
Suyanto juga menyingkap fakta pahit dari hasil riset perilaku konsumen tahun 2023. Sebanyak 82 persen orientasi khalayak saat ini lebih memilih menghabiskan waktu mengakses platform media sosial dan video pendek berdurasi hitungan detik. Sebaliknya, ketergantungan publik pada situs berita arus utama, media cetak, maupun televisi merosot tajam hingga tersisa di kisaran 25 persen.
Menghadapi tren yang mengkhawatirkan tersebut, Suyanto menawarkan jalan keluar agar media lokal tidak tergulung zaman. Ia menekankan bahwa Artificial Intelligence (AI) yang terus merangsek masuk ke ruang redaksi tidak boleh ditakuti, melainkan harus ditunggangi sebagai alat bantu operasional. Meski demikian, ada satu wilayah yang tidak akan pernah bisa direbut oleh mesin komputasi pintar tersebut, yakni jurnalisme data berbasis riset mendalam.
"Aktivitas jurnalisme investigasi yang mengandalkan kekayaan riset data di lapangan tidak akan bisa ditiru oleh AI. Media yang kaya akan data dan mampu mengolahnya menjadi laporan investigatif komprehensif dipastikan mampu bertahan mengikat pembaca setianya," paparnya.
Khusus untuk wilayah Riau, ia menyoroti peluang emas dari sektor jurnalisme lingkungan. Karakteristik bumi Melayu yang sering diidentikkan dengan frasa 'di atas minyak, di bawah minyak', keberadaan industri kelapa sawit skala raksasa, hingga riwayat panjang bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), merupakan ceruk pemberitaan eksklusif.
"Isu lingkungan seperti operasional pertambangan hingga karhutla adalah kekuatan lokal yang tidak dimiliki oleh media di daerah Jawa apalagi negara lain. Ini menuntut hadirnya jurnalisme lingkungan yang kuat dan faktual," tegasnya.
Krisis eksistensi ini sayangnya diperparah oleh penurunan drastis minat generasi muda untuk terjun ke dunia kewartawanan yang profesional. Suyanto membeberkan fenomena di kampusnya, dimana dari 500 mahasiswa ilmu komunikasi semester tiga, hanya ada dua orang yang berani memilih konsentrasi jurnalistik.
Situasi ini kian miris melihat fenomena di lapangan yang dipenuhi oleh oknum pewarta abal-abal serta maraknya praktik menyalin berita tanpa proses peliputan alias mengkloning berita. Menurutnya, praktik pragmatis tersebut merupakan tindakan bunuh diri massal bagi institusi media karena akan menghancurkan pondasi utama bisnis pers, yaitu kepercayaan publik.
Meski dihimpit tantangan berat, dosen komunikasi ini menolak bersikap pesimistis. Ia menganalogikan ekosistem media lokal yang kecil layaknya seekor kancil yang harus bertahan hidup di tengah rimba hutan belantara yang dikuasai oleh harimau pemangsa.
"Ibarat kancil di tengah hutan, media lokal yang berskala kecil tetap bisa selamat dan membesarkan ekosistemnya asalkan konsisten menjaga profesionalisme, mematuhi kode etik, dan berani menyajikan jurnalisme yang bermutu tinggi," pungkasnya. ***