SELATPANJANG – Festival Perang Air di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau telah berakhir pada Senin (3/2/2025). Warga Tionghoa meriahkan perayaan Tahun Baru Imlek 2576 dengan basah-basahan.

Mereka saling siram atau tembak-tembakan dari atas kendaraan bersama peserta yang siaga di pinggir badan jalan. Tradisi saling siram air yang berlangsung dari pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB ini dimulai sejak Rabu (29/1/2025) yang dibuka secara resmi pada Kamis (30/1/2025), di Jalan Diponegoro, Selatpanjang Kota.

Adapun jalur Perang Air meliputi Jalan Diponegoro, Kartini, Imam Bonjol, A Yani dan Jalan Tebingtinggi. Masyarakat menunggu di tepi jalan dengan ember dan drum berisi air untuk menyiram peserta yang melintas dengan kenderaan berupa becak motor maupun sepeda motor. Tidak hanya warga, peserta juga bersiap dengan pistol air, gayung, hingga ember untuk saling membalas siraman dengan penuh kegembiraan.

Festival Perang Air yang berlangsung selama enam hari ini tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Dengan meningkatnya kunjungan wisata, festival ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, terutama di sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi.

Festival Perang Air ini menjadi daya tarik utama wisata, tidak hanya bagi masyarakat Riau, tetapi juga bagi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Setiap tahunnya, pengunjung dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, hingga Australia turut meramaikan festival ini.

Sebelumnya, Pelaksana tugas (Plt) Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat di Kepulauan Meranti atas partisipasinya dalam memeriahkan festival tersebut.

"Mari kita jalin kekompakan, saling menghargai dan menghormati antar suku, etnis dan budaya guna mewujudkan Kabupaten Kepulauan Meranti yang aman dan damai," katanya.

Festival Perang Air itu merupakan kegiatan yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata yang bekerja sama dengan masyarakat Tionghoa di Kota Selatpanjang.

"Selain sebagai salah satu ikon pariwisata di Kota Sagu, festival ini juga dapat mengangkat, memelihara, melestarikan serta menumbuhkembangkan bentuk tradisi ini ke masyarakat luas," pungkasnya. ***