SELATPANJANG - Petani karet di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, semakin menjerit. Selain harga karet sangat murah, faktor alam seperti hujan membuat petani karet ini tidak bisa bekerja sama sekali.

Seperi yang terjadi, Kamis (26/11/2015). Sejak pagi itu, langit terlihat mendung. Awan gelap menyelimui Kota Sagu. Barulah sekitar pukul 09.30 WIB, hujan turun.

Teringat pula dengan keluhan petani karet asal Desa Anak Setatah, Rangsangbarat, Syafrizal, beberapa waktu lalu. Syafrizal mengeluhkan harga karet yang semakin hari semakin anjlok. Harganya hanya tinggal Rp3.500 perkilogram.

"3 kg karet baru untuk 1kg beras," ujar Syafrizal.

Selain harga murah, rata-rata karet yang diolah di Kepulauan Meranti oleh masyarakat setempat, tidaklah memberikan hasil yang banyak. Sebab, karet kalau tidak diolah menggunakan obat (ubat getah, dioles di batang, red), hasilnya sangat sedikit.

Bukan berarti semua kebun karet bisa diolah menggunakan ubat getah. Rata-rata pemilik kebun melarang keras petani yang mengolah karetnya itu menggunakan obat. Sebab, mereka belasan usia produkif karet tidak akan lama jika dioles ubat di batang.

"Saya kebun sendiri, jadi tak ada yang melarang pakai ubat. Itupun hasilnya sedikit," ujar Syafrizal lagi.

Waktu itu, Syafrizal mengatakan, meski harga murah dan hasil sedikit, mereka masih bisa bertahan, karena tidak ada pekerjaan lain. Namun, jika musim hujan, mereka tidak bisa berbua apa-apa dan hanya pasrah, sebab karet tidak bisa diolah sama sekali.

Air hujan yang sifatnya merembes dan membasahai batang karet, membuat susu karet (getah, red) menjadi rusak. Biasanya jika mengolah getah dan saat itu turun hujan, getah-getah tersebut akan tumpah dari saluran (yang dibuat dengan paha besi untukmengalirkan getah ke penampungan, red). Inilah yang membuat petani karet sama sekali tidak bisa bekerja saat turun hujan.

Untuk di Kabupaten Kepulauan Meranti, rata-rata mata pencarian penduduk adalah bertani, nelayan, dan hanya sebagian kecil masyarakat tempatan yang bekerja di kantor. ***