PEKANBARU, GORIAU.COM - Hampir setiap tahun Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Provinsi Riau. Akibatnya, keberadaan hutan yang merupakan penjaga keseimbangan iklim dunia semakin habis. Dengan kondisi ini, aktivisi peduli lingkungan kembali mengkampanyekan penyelamatan hutan.

Kali ini, Greenpecae yang melakukan kampanye penyelamatan hutan di Indonesia, terutama di Provinsi Riau dihadapan tokoh-tokoh masyarakat Riau.

Dalam pemaparannya, Teguh Surya menyatakan kondisi hutan gambut di Indonesia semakin hari semakin memprihatinkan. Jika kondisi ini terus menerus dibiarkan, maka keseimbangan alam tidak bisa dikendalikan.

"Sejak tahun 2000 hingga 2011, hutan-hutan yang ada di Provinsi Riau sudah banyak yang dirambah. Baik oleh perusahaan yang mendapatkan izin dari pemerintah, maupun masyarakat setempat," ujarnya, Rabu (30/4/2014) di Balai Adat Melayu Riau.

Kebanyakan pengelolaan hutan gambut yang menjadi konsesi perusahaan tidak sesuai dengan standar. Kanalisasi yang mereka buat sangat cepat merusak hutan gambut.

Di Indonesia sendiri, lanjut Teguh, masih ada sekitar 43 juta hektare hutan yang tersisa. "Kami optimis, hutan ini berpeluang untuk diselamatkan," katanya.

Selain akan merusak iklim dunia, perambahan hutan juga akan merusak ekosistem di dalamnya. Tentunya, kehidupan hewan-hewan akan terganggu. Akibaynya, konflik antara manusia dan binatang tak terhindarkan. "Habitat mereka tidak ada lagi," katanya.

Untuk itu, Greenpeace mendorong pemerintah untuk mempertahankan hutan adat ataupun hutan desa yang ada. Sebab, tak jarang juga terjadi konflik antara masyarakat dan perusahaan (konflik agraria).

Selain dihadiri tokoh-tokoh Riau seperti Tennas Effendi dan Al Azhar, diskusi mengenai penyelamatan hutan Riau ini juga dihadiri BLH Riau, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Polda Riau, Kejaksaan Tinggi Riau dan Danrem.(san)