BAGANSIAPIAPI – Amarah warga memuncak setelah serangkaian serangan buaya di Sungai Bangko, Kecamatan Bangko Pusako, Rokan Hilir, Riau, terus memakan korban jiwa. Terbaru, seorang nelayan lansia, Anwar alias Nuar (70), tewas mengenaskan akibat diterkam buaya saat berada di tepian sungai, Rabu (24/4/2025) sore.

Jasad Anwar ditemukan keesokan harinya dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya tercabik-cabik, diduga akibat keganasan predator sungai tersebut. Peristiwa tragis ini menambah panjang daftar korban yang telah jatuh akibat buaya di wilayah itu.

Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil sungai merasa tidak lagi aman. Sungai Bangko dulunya menjadi urat nadi transportasi dan sumber ekonomi warga, kini berubah menjadi ancaman.

"Sudah terlalu banyak korban. Sungai ini bukan hanya tempat kami mencari nafkah, tapi sudah menjadi ladang pembantaian," ujar Kamar (45), warga setempat.

Kekecewaan warga semakin menjadi karena tidak ada tindakan tegas dari instansi terkait seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), meski telah lama mengetahui ancaman dari populasi buaya di daerah tersebut.

Geram karena tak kunjung ada respon, warga akhirnya bertindak sendiri. Tanpa komando, masyarakat Bangko Pusako turun tangan memburu buaya di Sungai Bangko. Selasa (29/4/2025), satu ekor buaya berhasil ditangkap. Ini merupakan buaya ketiga yang dieksekusi warga dalam sepekan terakhir.

Buaya yang ditangkap diarak ke jalan umum, lalu dibawa ke satu lokasi untuk dieksekusi. Perut hewan itu dibelah untuk memastikan apakah terdapat potongan tubuh korban terakhir.

"Tak peduli besar atau kecil, setiap buaya yang terlihat langsung diburu. Perutnya kami periksa, siapa tahu ada bagian tubuh korban di dalamnya," kata Kamar lagi.

Warga menyebut, buaya-buaya sering terlihat berjemur di tepi sungai dan berenang di permukaan air. Selain manusia, ternak seperti kambing juga kerap menjadi mangsa.

"Buaya sekarang bukan hanya ancaman bagi nelayan, tapi juga hewan ternak warga. Kami tidak punya pilihan lain selain memusnahkan mereka," ungkap seorang warga lainnya.

Aksi warga ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kondisi yang dianggap tidak lagi bisa ditoleransi. Mereka berharap pihak berwenang segera mengambil langkah konkret sebelum korban terus berjatuhan. ***