SELATPANJANG - Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia menggelar seminar nasional tentang Memori Kolektif Budaya Melayu, Kamis (30/11/2017). Dalam seminar yang bertujuan untuk menempatkan kembali semangat keserumpunan sebagai perekat dalam menghadapi arus globalisasi ini, FIB UI mengundang dua tokoh Melayu Riau.

Adapun dua tokoh yang diundang itu adalah budayawan senior Drh Chaidir MM dan Buya Ahmadi Ahmad. Buya Ahmadi Ahmad juga sebagai ketua I keluarga melayu Riau Chevron dan sekaligus sebagai calon penerus pemegang estafet yg sedang di persiapkan oleh mantan ketua DPRD Riau Chaidir tersebut.

Lembaga Kajian Indonesia FIB UI sangat concern atas kejayaan Melayu dan terus berupaya mendorong agar kegemilangan itu tegak kembali. Salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah dengan mengadakan rangkaian seminar nasional dan internasional secara rutin dan berkesinambungan di negara serantau ASEAN.

Dulu, saat diberlakukannya Traktat London, Mei 1824, secara politik memang membelah dunia Melayu ke dalam dua kekuasaan kolonial yang berbeda yaitu Inggris dan Belanda. Tetapi hubungan sosio-kultural masyarakat di kawasan tersebut tetap tidak terganggu oleh keputusan politik itu.

Jadi, hubungan sosio-kultural masyarakat Melayu ternyata tidak dapat dipisahkan begitu saja oleh sekat-sekat politik.

Tidaklah hal itu merupakan modal yang sangat berharga bagi usaha-usaha mengangkat kembali keagungan Melayu sebagai sebuah puak kebudayaan? Dalam konteks itulah, isu keserumpunan berpeluang menjadi alat perekat.

Ia dapat dimanfaatkan untuk menggugah emosi kemelayuan dalam kerangka keserumpunan (regional) dan dalam kerangka hubungan antarbangsa (global).

Ikut hadir pada acara itu antara lain Dirjen Kebudayaan dan Datuk Panglimo Nalo sebagai tokoh muda dari Malaya Palembang. Selain itu juga diikuti anggota dewan penasihat Lembaga Kajian UI DR Phil Lily Tjahjandari dan para tokoh Melayu serantau lainnya, para dosen serta mahasiswa Ilmu budaya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta begitu tekun dan antusias mengikuti hingga akhir. Setidaknya ada 200 lebih peserta saat iitu (rls)