PEKANBARU – Puluhan mahasiswa menggelar Aksi Kamisan di Tugu Perjuangan di Jalan Gajah Mada Pekanbaru, Kamis (22/8/2024) sore.

Aksi itu untuk mengawal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengubah ambang batas pencalonan kepala daerah sekaligus menolak revisi Undang-undang (RUU) Pilkada yang dibahas DPR RI.

Dalam aksi tersebut, massa menggelar aksi happening art, yang menggambarkan nasib rakyat Indonesia saat ini khususnya bagaimana sulitnya mencari kerja. Namun kondisi itu berbanding terbalik kehidupan keluarga dan keturunan Joko Widodo.

“Lihatlah hari ini, kita sekolah tinggi-tinggi, kuliah tinggi-tinggi. Tapi masih sulit mencari kerja. Sedangkan Jokowi hari ini seenaknya mengobrak-abrik peraturan untuk memikirkan anaknya sendiri,” kata salah satu demonstran saat melakukan orasi.

Dibekap Kain Hitam

Dalam kesempatan itu, tampak seorang peserta aksi dibekap mulutnya dengan kain hitam. Ia kemudian diseret dan diperlakukan semena-mena oleh peserta aksi lainnya.

Pada bagian lehernya, terpasang tulisan Demokrasi. Aksi happening art itu menggambarkan kondisi demokrasi di Tanah Air saat ini. Dimana demokrasi telah diinjak-injak dan diperlakukan secara semena-mena.

Mereka mengecam sikap pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat demi memenangkan kepentingan diri sendiri.

“Semakin dipersempit ruang lingkup kita demi kepentingan dinasti mereka. Mereka rampas hak-hak kita, padahal rakyatnya masih banyak yang tidak bisa bekerja, tidak bisa makan dan tidak bisa bersekolah,” serunya.

Aksi ini diisi dengan kegiatan baca puisi, mimbar bebas, diskusi dan konsolidasi.

Menjelang Magrib, para peserta kemudian membubarkan diri dengan tertib. ***