PEKANBARU, GORIAU.COM - Lahan gambut dewasa ini merupakan isu penting dan menjadi sorotan khalayak ramai. Hingga saat ini pengelolaan lahan gambut masih menjadi perdebatan. Sementara pada sisi lain, Provinsi Riau setidaknya memiliki 5,7 juta hektar kawasan kesatuan hidrologis gambut (rawa gambut) atau sekitar 64 persen dari luas wilayah Riau.


Itulah sebabnya, mengapa kawasan gambut di Riau sering menjadi isu hangat hingga mancanegara. Lahan gambut sesungguhnya dapat dimanfaatkan dan dikelola guna mendukung peningkatan perekonomian masyarakat. Namun untuk pengelolaanya perlu tindakan tepat guna melindungi lahan tersebut dari degradasi. Pengelolaan lahan gambut harus dilakukan dengan meningkatkan pertumbuhan sosial dan kesejahteraan tanpa membahayakan ekosistem.


Kunci penting dalam pengelolaan lahan gambut dapat dilakukan melalui pengelolaan tata air secara baik yang membatasi drainase untuk kawasan budidaya dan melindungi sistem hutan rawa gambut yang dilestarikan.


"Pengelolaan lahan gambut yang bertanggung jawab membutuhkan investasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi serta sumber daya manusia, sehingga produktivitas lahan gambut tetap dapat dipertahankan dan degradasinya dapat dihindari semaksimal mungkin," ujar Dian Novarina, Deputy Director Sustainability PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) pada acara dialog pengelolaan lahan gambut lestari di Riau, Jumat (22/8/2014).


Perusahaan menggunakan pintu air otomatis (automatic water level gate and loggers) untuk mengendalikan drainase secara real time, menggantikan pemantauan muka air yang dilakukan secara manual, dengan menerapkan teknologi telemetri yaitu pengendalian jarak jauh, sehingga pengaturan muka air di kawasan HTI yang dikelola, dapat dilakukan secara lebih akurat.


Prof Hisao Furukawa, Prof Emeritus dari University Kyoto, yang berpengalaman meneliti gambut di seluruh dunia selama 30 tahun, dan Prof Emeritus Isamu Yamada ahli forest Ecology dari Universitas yang sama dan berpengalaman selama 50 tahun dalam penelitian bidang Forest Ecology di seluruh dunia. Beliau berdua sedang melakukan kunjungan studi banding dan kunjungan ke Riau dan PT. RAPP dari tanggal 20-22 Agustus 2014.


Menurut Furukawa : Perusahaan ini selalu improve dalam teknologi pengelolaan hutan tanaman sehingga ada harapan menuju pengelolaan hutan lestari. Dibandingkan dengan 30 tahun lalu, pengelolaan lahan gambut di Indonesia saat ini sudah cukup baik karena perusahaan-perusahaan yang mengelola terus meng-improve teknologi pengelolaannya sesuai dengan sifat dan ciri gambut.


Dalam hal ini teknologi pengelolaan gambut di Indonesia sudah menggunakan teknologi yang sejajar dengan negara lain seperti Malaysia. Pengelolaan HTI pada lahan gambut di Indonesia sudah cukup advance dan secara ekologi cukup bijak sehingga menjanjikan prospek yang baik.


Sedangkan menurut Yamada setelah melakukan kunjungan pengelolaan gambut di Riau, ada harapan (hope), apa yang dilakukan oleh PT. RAPP sangat impressive dan membuatnya optimis akan kemajuan pengelolaan lahan gambut di Indonesia.


"Saya menekankan bahwa tidak hanya secara teknis saja yang diperhatikan, tetapi aspek sosial dan konservasi juga perlu diperhatikan. Permasalahan dalam pengelolaan lahan gambut tidak bisa diselesaiakan hanya dengan aspek ekonomi, tetapi harus juga dengan pendekatan aspek sosial," ujarnya.


"Selain itu sangat penting juga untuk melakukan upaya konservasi kekayaan jenis lokal. Dalam hal ini saya sangat puas karena PT. RAPP telah memikirkan dan melakukan hal ini, antara lain dengan dibuatnya nursery khusus jenis-jenis lokal. Saya menyarankan agar bibit dari nursery tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat selain dari perusahaan sendiri untuk kegiatan merestorasi kawasan konservasi di areal perusahaan," sambungnya.


Sedangkan DR. Gunawan Djajakirana (Dosen Institut Pertanian Bogor): Pemilihan tanaman Acacia crasicarpa sangat tepat untuk lahan gambut, tanaman Acacia merupakan jenis legume yang dapat menambat nitrogen di udara sehingga dapat menyuburkan tanah gambut, dan akibatnya keanekaragaman biota tanah meningkat.


Sejalan dengan ini fakta menunjukkan bahwa ternyata setelah 3 daur produkstivitas lahan gambut untuk tanaman Acacia crasicarpa dapat dipertahankan bahkan ada kecenderungan peningkatan.


Faktor paling penting dalam pengelolaan lahan gambut adalah pengelolaan tata air. Saat ini sedang dilakukan pendekatan inovatif yang menggabungkan zonasi secara hati-hati antara kawasan hutan dan daerah pengelolaan tata air atau yang dikenal dengan 'Ecohydro' yaitu suatu pendekatan pengelolaan tata air yang melibatkan pembentukan zona penyangga untuk mencegah hilangnya air ke daerah yang berdekatan, yang rusak atau sedang dalam pengembangan.


Pada sisi lain, industri sektor swasta kehutanan memiliki keahlian dalam pengelolaan sumber daya alam dan model bisnis jangka panjang yang harusnya ditampilkan dalam upaya pengelolaan lahan gambut. Lebih lanjut, lahan gambut sangat erat kaitannya dengan aspek lingkungan, sosial, ekonomi dan nilai-nilai budaya yang cukup penting bagi masyarakat global.


Model tradisional bagi konservasi tidak lagi cukup untuk menjamin pemeliharaan jangka panjang dari fungsi vital lahan gambut. Sistem Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management) yang dilakukan oleh industri kehutanan diharapkan mampu memberikan solusi dalam melindungi lahan gambut termasuk ekosistemnya, serta memastikan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan daya saing global.


Diperlukan kolaborasi semua pihak dan pemangku kepentingan untuk perlindungan lahan gambut. Pengelolaan lahan gambut dengan bijaksana menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa fungsi ekosistem dari lahan tersebut tetap terjaga dimasa mendatang.


Hal ini perlu dilakukan evaluasi yang meliputi fungsi, kegunaan, dampak dan kendala. Melalui penilaian dan penalaran tersebut, prioritas pengelolaan, termasuk mitigasi kerusakan yang telah terjadi harus diberi perhatian khusus.(rls)