MEYAKINI bahwa Tuhan hanya satu dan tidak punya anak menjadi jalan hidayah bagi Brooklyn. Gadis cantik asal Amerika ini memahami konsep tentang keesaan Tuhan setelah membaca kisah tentang nabi-nabi yang ada dalam Alquran. Begini kisahnya.

Dikutip dari Viva.co.id, Brooklyn mengaku memutuskan memeluk Islam setahun yang lalu saat usianya 25 tahun. Dia merasa sangat bersyukur karena dipilih Allah SWT sebagai penerima hidayah.

''Saya menjadi seorang Muslim saat berumur 25 tahun. Saya berumur 26 tahun sekarang. Alhamdulillah sudah setahun saya menjadi seorang Muslim dan tidak ada kata mundur,'' tegas Brooklyn pada kanal YouTube Ayatuna Ambassador.

Brooklyn menuturkan, dirinya lahir sebagai seorang Kristen dan tumbuh dengan dikelilingi keluarga serta lingkungan yang taat beribadah. Pada awalnya, Brooklyn kecil selalu percaya pada konsep trinitas pada agama Nasrani.

''Saya tumbuh menjadi seorang Kristen, saya tidak mencari agama lain, saya pikir tidak ada agama lain. Satu hal yang saya selalu konsisten, berdoa untuk dibimbing, saya berdoa agar Tuhan akan membimbing saya. Tidak peduli apa yang saya lakukan, tidak peduli hal- hal buruk, saya melakukan hal-hal baik, yang saya lakukan selama saya berdoa,'' tuturnya.

Beruntung, doanya terkabul dengan mata hatinya yang dibukakan oleh Allah SWT. Seorang teman Brooklyn yang beragama Islam, memberitahunya tentang kisah para nabi yang ternyata menuai rasa penasarannya. Awalnya, Brooklyn terkesima dengan kisan Nabi Adam dan Hawa. Namun, itu berlanjut hingga kisah nabi lainnya, termasuk Nabi Isa. 

''Saya ingat ketika saya masih seorang Kristen dan teman saya memberi tahu saya tentang Adam dan Hawa, dan bagaimana Muslim mempercayai Adam dan Hawa, apa yang orang Muslim ketahui tentang Adam dan Hawa. Dia mulai menceritakan kepada saya seperti semua cerita ini dan cerita mendetail ini tentang semua nabi, ada Nabi Musa, Nuh, Yesus, Abraham AS, (pandanganku) berubah,'' ungkapnya.

Tanda tanya besar pun hinggap di kepalanya lantaran ia lebih mengenal Nabi Isa sebagai Yesus yang diyakininya sebagai Tuhan selama ini. Dari sini, Brooklyn mulai mempelajari Islam lebih dalam hingga menemukan dua perbedaan mencolok dari agama Nasrani yang diyakininya saat itu.

Pertama, Islam memberi pandangan bahwa Tuhan adalah satu atau esa. Kedua, segala hal sudah diatur di agama Islam sehingga dipraktikkan oleh Muslim dengan baik.

''Saya mulai menyadari bahwa hanya ada dua perbedaan utama dalam dua agama ini. Islam tidak percaya bahwa Tuhan memiliki anak. Kedua, semua aturan yang ada dalam Islam dipraktikkan umat Islam,''  imbuhnya.

Dia mulai meragukan konsep trinitas. Brooklyn pun memercayai bahwa Tuhan adalah esa dan tak melahirkan maupun dilahirkan, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran.

Brooklyn akhirnya benar-benar meyakini Tuhan itu esa dan diapun memutuskan memeluk agama Islam. Kalimat syahadat kemudian terucap dengan lancar dari mulutnya.

''Yesus Kristus bukan Tuhan. Tuhan bukan trinitas, saya hanya sangat senang bahwa Allah menjadikan saya seorang Muslim, saya bahkan tidak bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata,'' bebernya.

Brooklyn selalu memandang bahwa Islam adalah cara hidup yang lengkap, pedoman bagi seluruh umat manusia dari Allah pencipta alam semesta.

Dengan cara hidup Islam pula, kita dibimbing menjadi kepribadian yang lebih baik agar mampu bersosialisasi dengan moral yang baik. Brooklyn menyadari bahwa cara hidup Islam juga berarti tunduk dan taat pada perintah Allah SWT.

''Penerimaan terhadap perintah Allah dan ketaatan berarti mengamalkan perintah Allah. Penyerahan dan ketaatan kepada Allah membawa kedamaian. Itulah sebabnya Islam juga berarti kedamaian. Orang yang menerima cara hidup Islam dan mengamalkannya adalah seorang muslim sesuai ajaran Nabi,'' kata dia.

Mendengar penjelasan Brooklyn soal konsep keesaan Allah dan kisah para nabi, membuat ibunya akhirnya juga meyakini Islam sebagai agama yang benar. Ibunda Brooklyn pun memutuskan memeluk agama Islam, menjadi mualaf.

''Tuhan hanya satu dan jika Anda tahu apa yang saya tahu, maka Anda akan percaya juga,'' ujarnya.***