
SELATPANJANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepulauan Meranti mencatat sebanyak delapan kasus dengue sepanjang Januari 2026 hingga tanggal 19 Januari. Dari jumlah tersebut, empat kasus merupakan Demam Berdarah Dengue (DBD) dan empat lainnya Demam Dengue (DD). Kabar baiknya, tidak terdapat kasus kematian akibat dengue pada periode ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, SH, MM melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Widya Nengsih, SKM , menyampaikan bahwa kondisi dengue pada awal tahun ini relatif terkendali dibandingkan tahun sebelumnya.
"Berdasarkan laporan puskesmas dan rumah sakit hingga 19 Januari 2026, total kasus dengue tercatat delapan kasus, dengan empat di antaranya merupakan DBD. Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu," ujar Widya kepada GoRiau.com, Senin (19/1/2026) sore.
Ia merinci, sebaran kasus DBD pada Januari 2026 paling banyak berasal dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang dengan dua kasus. Selanjutnya masing-masing satu kasus tercatat di wilayah Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat. Sementara itu, puskesmas lainnya belum melaporkan adanya kasus DBD pada periode yang sama.
"Secara epidemiologis, angka incident rate (IR) dengue sementara di Kepulauan Meranti pada Januari 2026 berada di kisaran 1,86 per 100.000 penduduk. Angka tersebut dinilai cukup rendah jika dibandingkan dengan kondisi sepanjang tahun 2025," ungkapnya.
Sebagai perbandingan, selama tahun 2025 tercatat sebanyak 425 kasus infeksi dengue, yang terdiri dari 178 kasus DBD (dua kasus meninggal dunia) dan 247 kasus DD (demam dengue). Hal ini menunjukkan bahwa tren awal tahun 2026 mengalami penurunan kasus yang cukup signifikan. Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap meningkatkan kewaspadaan, terlebih saat musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
"Kami terus melakukan pemantauan kasus secara rutin, penguatan surveilans sebagai bentuk kewaspasaan dini di puskesmas, serta mendorong pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masyarakat. Fogging dilakukan sesuai indikasi epidemiologis, bukan sebagai langkah utama," tegas Widya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar berperan aktif dalam pencegahan melalui penerapan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang tempat yg berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, serta langkah tambahan (plus) seperti menggunakan lotion atau obat nyamuk, memakai kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk.
"Kita tetap mengimbau masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Program 3M Plus harus terus dilaksanakan, baik ada maupun tidak ada kasus, sebagai upaya pencegahan dini DBD," kata Widya.
Selain itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi secara berkelanjutan, baik melalui media sosial puskesmas maupun kegiatan di dalam dan luar gedung.
"Kami terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih sehat. Virus dengue sangat berkaitan dengan daya tahan tubuh. Pola makan, kebersihan, dan gaya hidup sehat sangat mempengaruhi imun masyarakat. Jika itu dijaga, tentu angka kejadian DBD di Kepulauan Meranti dapat ditekan," pungkasnya.
Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, guna memastikan penanganan cepat dan mencegah kondisi menjadi lebih berat. ***