SELATPANJANG - Banjir yang menenggelamkan beberapa desa di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kampar dan memutuskan jalan lintas Sumbar-Riau kembali mendapat sorotan pakar lingkungan DR Elviriadi SPi MSi. Menurutnya, banjir di DAS Kampar ini bukti nyata akibat membangun sambil merobohkan.

Hal itu sebagaimana disampaikan DR Elviriadi SPi MSi saat berbincang-bincang dengan GoRiau.com, Jumat (3/3/2017) malam. Kata Elv, banjir di DAS Kampar akibat dari membangun sambil merobohkan. Demi devisa negara, hutan dan rakyat yang dikorbankan. Akibatnya, beberapa desa seperti Desa Gunung Sahilan, Desa Sahilan Darussalam, Desa Subarak, Desa Sungai Lipai, Desa Kebun Durian, terendam banjir.

"Itukan sudah jelas, dari dulu begitu terus. Kita ini membangun sambil merobohkan," kata Elviriadi.

Ditambahkan laki-laki bertubuh tambun itu lagi, seharusnya 30 persen hutan di hulu DAS PLTA Koto Panjang dipertahankan. Sekarang, kata Elv, solum tanah di hulu DAS PLTA Koto Panjang hanya tinggal 13,5 persen daya serap air hujan (ke tanah). Jika dalam 3 tahun ke depan tidak direhabilitasi dan direboisasi, tembok PLTA akan jebol.

"Ya banjir dan bencanalah yang datang," ungkap anak watan Kepulauan Meranti yang terkenal vokal itu.

Disampaikan Elv juga, hutan lindung di sepanjang bukit barisan adalah kawasan tangkapan air, daerah resapan, sekarang malah dialihfungsikan dengan tanaman tak jelas. Jadi, memang mindset pembangunan itu sejak dulu salah sampai sekarang. Dimana sumberdaya alam dibinasakan, lalu uangnya tidak untuk merehabilitasi DAS dan apa yang binasa.

"Malah uang oleh elit negara digunakan untuk agenda tersendiri, seperti rapat, kunjungan luar negeri berombongan dalam jumlah besar, dan biaya-biaya rutin birokrasi. Jadi uangnya tidak balik ke rakyat dan tidak juga untuk memitigasi kawasan rawan bencana," beber Elv.

Sebagai ilmuan, diakui Elv, Ia bertanggungjawab untuk memberitahu kepada pengambil kebijakan di negeri ini. Ia minta tolong perhatikan dampak-dampak dari pembangunan yang merobohkan dan apa yang harus dilakukan kedepannya. Kalau tidak, tinggal menunggu waktu Sungai Kampar akan menjadi kuburan massal ribuan orang di sepanjang tepian DAS-nya.

"Malam ini saja di Gunung Sahilan Kampar Kiri, air sudah mencapai bubung rumah," ungkap Dosen UIN Suska yang sudah keliling dunia mengakhiri wawancara. *** #Semua Berita Kep Meranti, Klik di Sini