SELATPANJANG, GORIAU.COM - Kebahagiaan dan kebersamaan pada anak-anak sekitar tahun 90an begitu terasa. Segala sesuatu yang ada di sekitar tempat tinggal bisa dijadikan permainan untuk melengkapi kebahagiaan sewaktu masih anak-anak.
Seperti salah satu bunga yang banyak ditemukan di rumah masyarakat di Daerah Desa Mekong Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Bunga itu berwarna kuning (penulis tak tau nama bunganya, ada yang bilang bunga alamanda, ada yang bilang bunga kuburan), dengan daun meruncing berwarna hijau pekat atau hijau tua.
Cara memainkannya terbilang gampang. Cukup memetik bakal jadi bunga yang belum mengembang. Bakal bunga ini berbentuk lonjong dan ada ruang luas di dalamnya. Bakal bunga ini dipotong bagian bawah kemudian dimasukkan di setiap jari, sebagai pengganti kuku.
Kuku-kuku jari yang sudah dipasangkan dengan bunga ini dianggap mirip dengan kuku syaitan, lalu dibuatlah untuk menakut-nakuti anak-anak yang lain, walau rata-rata dari mereka tidak ada yang takut.
Permainan ini dulu hampir dimainkan setiap hari oleh anak-anak kecil setelah pulang sekolah. Itu merupakan salah satu dari ribuan permainan anak-anak yang biasa dimainkan.
Seingat penulis, dulu anak-anak di Desa Mekong tidak pandai main hape, tidak pandai main PS, tidak ada smartphone ataupun gadget. Mereka sibuk menghabiskan hari-hari dengan bermasin antara sesamanya. Kebahagiaan itu sungguh terasa walah jauh tertinggal dari anak-anak di daerah kota.
Tapi, sejak beberapa tahun belakangan permainan-permainan lama itu tidak lagi dirasakan, tidak lagi dimainkan. Anak-anak mulai terkontaminasi dengan peradaban yang datang dari luar.
Perkembangan teknologi berangsur-angsur merasuki fikiran anak-anak, tidak sedikit anak-anak usia sekolah baik SD, SMP, apalagi SMA sudah menggunakan BB, Smartphone dan berbagai merk gadget. Tidak hanya itu, kejahatan juga mulai terbilang meningkat. Mulai dari penyalahgunaan narkoba, kejahatan seksual maupun tindak kriminal lainnya sehingga membuat anak-anak berurusan dengan hukum.
(zal)