
PEKANBARU, GORIAU.COM - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs Zulher MS, beserta Ketua GAPKI Riau, Wisnu O Suharto, beserta tim, meninjau langsung lokasi kebakaran yang terjadi di Desa Tanjung Leban Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, Rabu (5/3/2014).
Zulher memilih langsung ke lokasi desa tersebut karena menurut informasi yang diterima, Desa Tanjung Leban merupakan lokasi kebakaran yang terparah yang terjadi di Kabupaten Bengkalis.
Desa Tanjung Leban, persisnya di RT 9, 10, dan 11 mengalami kebakaran seluas 2.000 hektar. Dari 2.000 hektar lahan yang terbakar itu terdiri dari lahan masyarakat kebun karet, lahan kosong dan sagu. Sedangkan untuk perusahaan adalah lahan akasia yang dikuasai oleh PT Satria Perkasa Agung (SPA).
Menurut Ketua RT 9, Sunarso, kebakaran itu dimulai dari lahan warga yang berada di RT 9, lalu meluas ke barat yang berada di kawasan RT 9 dan 10. Akibat kebakaran tersebut, 65 KK yang terdiri dari 221 jiwa warga RT 10 dan 11 mengungsi ke kawasan RT 9 dan juga 4 rumah dan satu MDA terbakar.
''Dan sekarang ini salah satu Kebun kelapa sawit Kelompok tani Riskin masih terbakar dan butuh dipadamkan,'' kata Sunarso.
Sunarso juga mengatakan pengungsi sekarang ini mengalami kekurangan bahan makanan, air bersih, hingga peralatan kebutuhan sehari-hari lainnya. Bahkan, mereka membeli air yang dipakai sehari-hari.
''Mereka mengungsi kesini seadanya, tidak membawa kebutuhan sehari. Untuk itu kita berharap bantuan dari pemerintah daerah"harap Sunarso.
Di lokasi pengungsian, Zulher menemukan fakta bahwa masih banyak lahan perusahaan perkebunan yang tidak jelas izinnya. Bahkan Camat Bukit Batu, dan Tim Disbun Bengkalis tidak mengetahui perizinan perusahaan tersebut.
''Kalaupun kebun mereka tidak terbakar, namun ini kita sayangkan, masak ada perusahaan perkebunan yang menguasai lahan perkebunan hingga ribuan hektar, pihak pemerintah desa dan kecamatan tidak mengetahuinya. Ke depannya kita akan mencek kejelasan perizinan mereka. Kalau melanggar aturan akan kita tindak,'' jelas Zulher.
Camat Bukit Batu, Fadlul Wajdi mengatakan bahwa pemerintah kecamatan telah berupaya memadamkan apia. Dari tahun 2009, katanya Masyarakat Peduli Api (MPA) telah terbentuk. Dan pada pemadaman api sekarang ini mereka sangat berperan dalam pemadaman api. Namun menurutnya, karena kondisi tanah yang tidak cukup air jadi menyulitkan pemadaman. Dan juga, menurut dia kanal-kanal yang telah ada di lahan masyarakat tidak ada aliran airnya karena ditutup oleh kanal yang dimiliki oleh Perusahaan HTI yang tergabung ke dalam Sinar Mas Forestry.
''Kami berharap ada dukungan pihak pemprov Riau agar kanal tersebut dibuka sehingga air dapat mengalir ke kanal milik masyarakat,'' ujar Fadlul Wajdi.
Selain itu, juga mengharapkan perhatian pihak pemerintah provinsi riau memperhatikan penanganan pasca bencana baik kepada masyarakat yang jadi korban maupun penanganan lingkungannya.
Sementara itu, Ketua Gapki Riau, Wisnu O Suharto, mengungkapkan cukup terkejut ada perkebunan swasta tidak diketahui isinnnya ole h camat dan Kepala Desa.
''Kita prihatin dengan kondisi masyarakat di tempat ini. Sehubungan dengan keinginan Disbun Riau untuk mencek perizinannya, kita sangat mendukung,'' ujar Wisnu.
Pada peninjauan ke lapangan tersebut, Disbun Riau dan GAPKI Riau memberikan bantuan kepada masyarakat berupa Sembako, Air mineral, makanan instan, dan juga pakaian seperti selimut dan handuk. Selain itu, Gapki dan Disbun Riau menyerahkan bantuan mesin pompa air satu unit kepada pihak kecamatan bukit batu dan Satu unit lagi untuk tim MPA Desa Tanjung Leban.
Setelah melihat kondisi korban kebakaran, Zulher dan rombongan juga melihat secara langsung pemadaman api yang dilaksanakan oleh tim MPA di Desa Sepahat Kecamatan Bukit Batu. Di lokasi titik api ini api menghanguskan kebun karet warga diatas lahan gambut seluas 15 hektar. (rls)