PEKANBARU - Isak tangis tidak dapat disembunyikan oleh Lindawati (52) saat menceritakan kondisi putranya, Adzan Agustian (22). Pemuda tersebut kini harus menjalani hidup dengan kondisi cacat permanen akibat kecelakaan kerja di area operasional PT Thaka Sukses Mandiri, Kabupaten Kampar, Riau, (5/9/2024) silam.

Sekujur tubuh Adzan kini dipenuhi bekas luka bakar. Jari-jari di kedua kakinya tidak lagi utuh, sementara tangan kirinya mengalami perubahan bentuk. Luka serupa juga membekas jelas di bagian punggung, paha, dan kedua lututnya akibat insiden tersebut.

Kronologi Kejadian di Area Produksi

Kecelakaan nahas itu terjadi saat Adzan sedang melaksanakan kerja lembur di area produksi kayu pelet. Ia tidak sengaja menginjak tumpukan serbuk kayu yang ternyata masih menyimpan bara api di bagian bawahnya.

"Begitu terinjak, langsung terbakar. Kami menyelamatkan diri sendiri karena badan sudah penuh api," kenangnya.

Akibat peristiwa tersebut, ia menderita luka bakar serius di berbagai bagian tubuh dan harus melewati serangkaian operasi, termasuk prosedur pencangkokan kulit. Lindawati yang saat kejadian berada di Jambi baru mengetahui musibah tersebut setelah menerima kabar bahwa anaknya harus dirawat intensif.

Pihak keluarga kemudian berangkat menuju Riau untuk mendampingi Adzan yang menjalani perawatan medis selama kurang lebih satu bulan di Rumah Sakit Mesra, sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Awal Bros Sudirman di Pekanbaru.

Dugaan Rekayasa Laporan Kecelakaan

Permasalahan baru muncul ketika Adzan mengurus klaim jaminan kecelakaan kerja. Ia mengaku diminta oleh pihak tertentu untuk membuat kronologi yang berbeda dari fakta sebenarnya. Dalam laporan tersebut, insiden diklaim terjadi di rumah, bukan di lingkungan perusahaan.

"Saya terpaksa mengikuti perintah. Kronologinya dibuat seperti apa, kami tinggal menyalin," bebernya.

Selama hampir dua tahun terakhir, Adzan memilih untuk bungkam karena khawatir akan kehilangan pekerjaannya. Namun, seiring berjalannya waktu dan kondisi fisiknya yang menghambat produktivitas, ia bersama keluarganya kini memutuskan untuk memperjuangkan haknya sebagai pekerja.

"Saya pasrah kalau memang harus dipecat, tapi saya menuntut hak saya sebagai pekerja," tegasnya.

Keluarga Berharap Keadilan

Bagi Lindawati, peristiwa nahas itu telah mengubah jalan hidup dan masa depan putranya secara drastis. Ia kini menuntut kejelasan proses hukum dan tanggung jawab perusahaan agar hak kompensasi Adzan dapat dipenuhi secara adil.

"Kami orang miskin, tidak tahu harus minta tolong pada siapa. Kami berharap ada yang mau membantu agar anak kami mendapatkan hak-haknya dan meluruskan kronologi kejadian sebenarnya," harapnya dengan suara bergetar.***