
RISIKO diabetes melitus di kalangan masyarakat Indonesia usia produktif meningkat pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Penyakit yang dahulu identik dengan lansia kini merambah generasi pekerja muda. Banyak orang di usia produktif menyepelekan diabetes, entah karena tenggelam dalam tumpukan pekerjaan, atau terlena dengan gaya hidup konsumtif yang berlebihan.
Kalimat seperti “Diabetes itu kan nggak menular?” atau “Nggak penting dipikirin sekarang deh” sering terdengar di kalangan usia produktif. Memang, diabetes bukan penyakit menular seperti COVID-19 atau tuberkulosis, namun kini diabetes justru menyebar dengan cepat di tengah masyarakat.
Gaya Hidup yang Memicu Risiko
Mengapa risiko diabetes meningkat pada usia produktif? Mari melihat contoh dari kehidupan seorang pekerja muda, sebut saja Citra. Ia bekerja di sebuah perusahaan besar di Indonesia. Lembur sudah menjadi rutinitas—bekerja dari pagi hingga larut malam di depan komputer. Dalam sehari, ia bisa duduk hingga 12 jam.
Saat kelelahan atau burnout, Citra mencari pelarian pada makanan dan minuman manis. Namun karena padatnya jadwal, ia jarang berolahraga. Bahkan dalam satu bulan, kadang tidak berolahraga sama sekali. Gaya hidup seperti inilah yang kini banyak dijalani masyarakat produktif: konsumsi gula berlebihan, duduk terlalu lama, kurang tidur, dan minim aktivitas fisik—semua perlahan menumpuk menjadi risiko diabetes.

Dampak pada Diri dan Karier
Banyak pekerja produktif merasa sehat karena belum ada gejala serius. Padahal, rasa lelah yang terus-menerus bisa menjadi tanda awal gangguan metabolik. Ketika akhirnya terdiagnosis diabetes, produktivitas pun menurun. Mereka sulit menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan, sementara biaya pengobatan menambah beban keuangan. Rencana hidup dan cita-cita jangka panjang bisa terganggu akibat penyakit kronis ini.
Ancaman bagi Pembangunan Bangsa
Kesehatan individu tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada kemajuan bangsa. Meningkatnya kasus diabetes di usia produktif patut menjadi alarm bagi Indonesia. Generasi produktif adalah tulang punggung pembangunan nasional. Jika mereka tidak sehat, produktivitas tenaga kerja dan stabilitas ekonomi pun terancam.
Perlu Pendekatan yang Realistis
Mengubah gaya hidup generasi produktif bukan hal mudah. Banyak yang lebih mementingkan citra dan tren dibanding kesehatan jangka panjang. Selama ini, diabetes masih dianggap penyakit orang tua sehingga perhatian terhadap kelompok usia muda minim.
Kesadaran diri perlu dibangun sejak dini. Kampanye publik memang sudah dilakukan, namun kesenjangan kesehatan masih lebar. Pemeriksaan pradiabetes pun belum mudah diakses bagi mereka yang sibuk bekerja. Karena itu, pelayanan kesehatan perlu beradaptasi, misalnya dengan menyediakan skrining pada jam di luar jam kerja.

Langkah Kecil, Dampak Besar
Perubahan kecil bisa membawa perbaikan besar. Misalnya, berjalan-jalan singkat setiap satu jam setelah bekerja di depan komputer, memilih naik tangga, atau memperhatikan kandungan gula dan nutrisi pada makanan. Aktivitas ringan seperti ini membantu metabolisme tubuh tetap aktif.
Selain itu, menjaga pola makan seimbang dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin sangat penting. Langkah-langkah sederhana ini dapat menekan risiko diabetes sebelum menimbulkan dampak besar terhadap kesehatan maupun karier.
Risiko diabetes pada usia produktif bukan sekadar masalah individu, tetapi persoalan sosial dan ekonomi. Menjaga tubuh tetap sehat di tengah tekanan pekerjaan adalah investasi terbaik agar terhindar dari penyakit kronis dan tetap produktif untuk masa depan. ***
* Mahasiswa baru Program Studi Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya