SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Setelah mendengar presentasi dari tim pelestarian kepurbakalaan yang disampaikan guru besar Universitas Indonesia DR Hasan Jafar dan Kosevator Senior, Sadikin di kantor Bupati Siak, Kamis (11/12/14), Bupati Syamsuar memberikan sejumlah masukkan.

Salah satu usulan itu, kata Bupati, tim kajian sebaiknya melibatkan sejarawan Riau dan Siak sebelum menyimpulkan hasil kajian yang nantinya disampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Setelah saya mendengar pemaparan dari tim, ternyata masih ada beberapa situs budaya yang luput dari pantauan. Ini saya maklumi, mungkin tim kajian tidak melibatkan tokoh masyarakat Siak dalam melakukan kajiannya. Agar kajian tentang situs budaya ini maksimal, saya sarankan agar tim melibatkan sejarawan Riau, Supandi dan sejarawan Siak, Oka Jamil," kata Bupati.

Dikatakan Bupati, dari 17 cagar budaya yang ada di Siak, ternyata tim kajian tidak menemukan semua. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap kinerja tim nantinya, setelah hasil itu diserahkan kepada pemerintah.

"Kajian ini belum tuntas, karena masih ada sejumlah cagar budaya kita yang tak ditemukan tim. Jumlahnya ada 17, tapi tak sampai 10 yang mereka teliti. Seperti makam Kacang Mayang, itu ada sejarahnya, tentu yang paham ahli sejarah kita, tapi kok tak masuk kajian tim," ujar Bupati.

Syamsuar berharap semua cagar budaya itu dapat dilindungi dan diakui pemerintah pusat dan dijadikan sebagai ikon wisata Siak.

"Kalau bisa secepatnya, apalagi sudah banyak bangunan yang mau tumbang, kalau tak segera direnovasi, takutnya keburu roboh," pungkasnya.

Kegiatan yang dimoderatori Kadis Pendidikan Kebudayaan Siak, Kadri Yafiz juga dihadiri perwakilan Kadis Pendidikan Kebudayaan Riau, Asisten II dan III Setdakab Siak, Kadis Pariwisata Pemuda dan Oahraga Siak Hendrisan serta sejumlah undangan lainnya.(nal)