PEKALONGAN, GORIAU.COM - Wakil Bupati Siak Drs. H. Alfedri, MSi mengunjungi Rumah Sakit Islam (RSI) H. Ahmad Djunaid di Buaran, Pekalongan, Jawa Timur, Kamis (30/1/2014). Kunjungan tersebut dalam rangka melihat langsung bagaimana penanganan pecandu narkoba. Sebab, RSI H. Ahmad Djunaid dilengkapi dengan Poli Kedokteran Jiwa dan rehabilitasi narkoba.

Sebelumnya, Wabup yang juga Ketua BNK Kabupaten Siak melakukan konsultasi ke Badan Narkotika Nasional (BNN). Dari konsultasi tersebut, BNN merekomendasikan BNK Siak untuk mengunjungi RSI H. Ahmad Djunaid. Dalam penanganan, BNN menilai rumah sakit tersebut sudah sesuai dengan tindakan medis ataupun sosial.

Untuk itu, Alfedri menilai sangat perlu belajar dari RSI H. Ahmad Djunaid dalam merehabilitasi korban Narkoba. Sebab, di Siak sendiri kebanyakan penghuni Lapas berasal dari kasus narkoba. "Kita masih memenjarakan para pecandu di Lapas," ujar Alferdri.

Padahal, lanjut Alfedri, kebijakan nasional Pemda harus memiliki klinik atau poli Kedokteran Jiwa dan Pusat rehabilitasi narkoba. "Kalau ada, tentunya kita dapat lebih banyak menyelamatkan generasi muda dan memutuskan mata rantai penyebaran narkoba di Siak," kata Alfedri.

"Saat ini, sudah banyak remaja Siak yang menjadi korban narkoba. Kondisi ini sangat memprihatinkan sekali. Dimana, ada anak-anak yang sudah pandai nge-lem," lanjut Alfedri. Bahkan, BNK Siak sendiri sudah mengirim dua orang pecandu narkoba ke Lido.

Sementara itu, Ketua BNK Pekalongan yang juga Wakil Walikota Pekalongan Alf. Arslan Djunaid menyambut baik kunjungan ini. Selaku Ketua BNK, beliau sangat komit terhadap pelayanan bagi pecandu narkoba.

Apalagi dia menilai Kota Pekalongan disinyalir sebagai kota yang riskan terhadap perkembangan narkoba. Hal itu terbukti Kota Pekalongan menduduki posisi 15 secara nasional sebagai kota peredaran narkoba dan obat-obat terlarang lainnya.

"Disini, rata-rata usia pecandu narkoba berkisar antara 12 hingga 59 tahun," kata Wawako Pekalongan. Pekalongan sendiri ditunjuk oleh BNN sebagai kota rehabilitasi untuk daerah Jawa Tengah.

"Kami sangat komit dalam mengentaskan dan menghentikan penyebaran narkoba dari berbagai usia," kata Alf. Arslan Djunaid.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Direktur RSI H. Ahmad Djunai dr. H. Bonis Edi Artoko, bahwa RS tersebut terinspirasi dari pendekatan secara rohani dan spiritual. Dimana, pelayanan rumah sakit benar-benar atas keprihatinan dari setiap kejadian yang ada saat ini.

Walaupun terbilang cukup muda, RSI yang baru beroperasi sejak Juli 2013 sudah banyak menangani pecandu narkoba. Pada prinsipnya, mereka tetap melayani pasien umum. "Kami tetap support para pecandu yang sedang direhabilitasi. Bagaimana, supaya mereka lepas dari jeratan narkoba," kata Bonis.

"Dengan adanya RSI ini, kami berharap para pecandu narkoba bisa diisolir dari lingkungannya," harap Bonis. Ternyata, RSI Ahmad Djunaid tidak hanya merawat pecandu narkoba dari Jatim dan Jateng saja. Bahkan pasien dari luar Pulau Jawa pun ada. Terutama daerah Papua dan Riau.(rls)