BENGKALIS, GORIAU.COM - Bupati Bengkalis H Herliyan Saleh mengingatkan seluruh kepala desa di Kabupaten Bengkalis agar lebih proaktif lagi dalam mengatasi tunggakan dana UED-SP. Sejauh ini sudah mulai terlihat kemajuan program tersebut dimana dana UED-SP tahun 2012 yang awalnya Rp102 miliar sudah menjadi Rp122 miliar.

''Tunggakan dana UED-SP harus lebih diminimalisir,mengingat dana UED-SP ini untuk kepentingan masyarakat. Jadi kalau ada yang menunggak, kasihan dengan warga yang masuk daftar tunggu untuk memanfaatkan dana UED-SP tersebut,” ujar Herliyan belum lama ini.

Dikatakan, terkait dana UED-SP tidak hanya persoalan tunggakan melainkan juga soal penyaluran dana UED-SP hendaknya sesuai dengan kriteria. Untuk itu, dalam pengelolaan dana UED-SP, perlu adanya kerja sama yang baik antara sarjana pendamping desa dan kepala desa.

“Untuk meningkatkan pemanfaatan dana UED-SP ini, saya minta agar pihak pengelola lebih giat lagi membina dan mensosialisasikan kepada masyarakat. karena semakin meningkat dana yang dimanfaatkan maka semakin meningkat pula perekonomian di desa.Disamping itu juga semakin besar penerimaan jasa bagi pengelola,” ujar Herliyan.

Terkait pemanfaatan dana UED-SP, Herliyan mengatakan perlu adanya kegiatan yang sinergis kegunaan dana tersebut dalam menggali pendapatan asli potensi desa. Perlu diketahui, PAD desa merupakan salah satu biaya yang dipergunakan untuk pembangunan di desa. Tinggi rendahnya PAD desa merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan otonomi dan tingkat kemandirian desa.

“Karena salah satu arah dari pelaksanaan otonomi dan kemandirian desa adalah apabila desa mampu membiayai sendiri kegiatan pemerintahan maupun pembangunan yang ada di desa. Untuk itu Pemerintah Desa harus dapat menggali potensi yang dimiliki agar dapat lebih bermanfaat bagi kemajuan,” ujarnya.

Tantang SPD

Secara terpisah, Kepala BPMPD Kabupaten Bengkalis, H Eduar mengatakan dirinya menantang para sarjana pendamping desa (SPD) dalam membantu masyarakat yang memang tidak mampu tapi memiliki keinginan kuat untuk berusaha. Dirinya yakin, ada masyarakat yang tidak punya apa-apa sebagai jaminan, pengetahuannya juga rendah, serta secara ekonomi tergolong miskin. SPD menurut Eduar hendaknya membantu orang-orang seperti ini agar bisa membuat usaha produktif yang memberikan keuntungan secara finanasial.

“Dalam hal ini, sarjana pendamping desa bisa membantu membuatkan proposal, analasis ekonomi dari usaha yang akan dilakukan. Kalau ada SPD yang berhasil, maka saya akan memberikan bonus,” tutupnya. (jfk)