PEKANBARU – Suasana ceria memenuhi halaman Perpustakaan Soeman H.S., Sabtu (17/5/2025). Anak-anak tampak berlarian sambil memeluk buku bergambar, sementara sebagian lainnya antusias menyimak dongeng yang disampaikan langsung oleh Bunda Literasi Provinsi Riau, Henny Sasmita. Kegiatan itu menjadi bagian dari peringatan Hari Buku Nasional 2025 yang sarat makna dan aksi nyata.

“Minat baca kita masih harus terus dibenahi. Anak-anak kini lebih akrab dengan layar ponsel daripada lembaran buku,” ucap Henny di hadapan orang tua, guru PAUD, dan kader PKK yang hadir.

Baginya, buku bukan sekadar benda cetak. Buku adalah jendela ilmu, fondasi masa depan, serta alat pembentuk karakter. Meski zaman berubah, Henny menegaskan buku tak boleh dikalahkan oleh gawai.

Tak hanya hadir di mimbar, Henny turun langsung ke lapangan. Ia menyambangi PAUD dan Posyandu di pelosok Riau, membagikan buku cetak dan digital. “Kami selalu datang membawa buku. Karena keakraban dengan bacaan harus dimulai bahkan sebelum anak mengenal huruf,” ungkapnya.

Salah satu program yang rutin ia lakukan adalah mengundang anak-anak PAUD ke Kediaman Gubernur. Di sana, ia mendongeng dengan pendekatan yang menyenangkan dan emosional. “Kita dekatkan anak-anak dengan buku melalui cara yang menyenangkan, salah satunya yaitu saya mendongeng,” jelasnya.

Henny juga membangun jaringan literasi hingga ke tingkat rumah tangga melalui kader-kader PKK yang tersebar di 12 kabupaten/kota. Para kader ini tak hanya menyampaikan pesan, tetapi menjadi agen perubahan literasi.

“Alhamdulillah, semua kader kami bersemangat melakukan ini,” katanya.

Ia menanamkan budaya membaca dari rumah. Menurutnya, ibu adalah guru pertama yang sangat berperan membentuk kebiasaan anak. “Kalau ibu-ibu di rumah gemar membaca, anak-anak akan mencontoh. Ini gerakan akar rumput yang pelan-pelan mengakar,” ujarnya.

Melihat perkembangan zaman, Henny menyadari transformasi perpustakaan juga perlu terjadi. “Perpustakaan kini bukan sekadar tempat buku. Ia telah menjadi pusat kegiatan masyarakat, bahkan wisata edukasi,” ujarnya kepada awak media.

Ia juga mencermati perbedaan generasi. Milenial lebih nyaman dengan buku cetak, sementara Gen Z cenderung pada bacaan digital. Namun baginya, esensinya tetap sama: mencintai ilmu.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, turut mengapresiasi langkah-langkah Henny. “Membangun minat baca itu perjuangan panjang. Tapi hasilnya akan dirasakan oleh generasi mendatang,” katanya.

Mimi menegaskan pentingnya peran ibu dalam menumbuhkan kebiasaan membaca. “Ibu-ibu punya jaringan sampai ke anak. Kalau mereka menghidupkan tradisi membaca, perkembangan anak akan tampak lebih aktif,” ujarnya.

Di balik seluruh aktivitas itu, Henny menyimpan harapan besar: menjadikan Riau bukan hanya kaya sumber daya alam, tapi juga kaya kecintaan terhadap buku dan ilmu.

“Insyaallah, kita bisa mencetak generasi emas untuk bangsa dan daerah tercinta,” tutupnya. ***