JAKARTA - Blokade ketat militer Amerika Serikat di perairan Timur Tengah ternyata tidak sepenuhnya kedap. Sebuah kapal super tanker milik Iran yang berstatus di bawah sanksi Washington berhasil menembus penjagaan dan berlayar memasuki perairan Teluk melalui Selat Hormuz.

Pergerakan armada raksasa ini terekam secara gamblang oleh data shipping dari LSEG dan Kpler. Kapal berjenis Very Large Crude Carrier (VLCC) RHN yang sanggup mengangkut dua juta barel minyak tersebut terpantau masuk ke perairan Teluk, Rabu (15/4/2026). Meskipun berlayar tanpa muatan, kantor berita Fars News Agency melaporkan bahwa armada yang masuk daftar hitam itu tengah mengarah ke pelabuhan Imam Khomeini di wilayah Iran.

Tembusnya kapal ini menjadi sorotan tajam atas efektivitas operasi maritim yang diinstruksikan oleh Presiden AS, Donald Trump. Penutupan akses laut ini dicanangkan, Minggu (12/4/2026), sebagai respons langsung atas kegagalan perundingan damai antara Washington dan Teheran di Islamabad akhir pekan lalu.

Otoritas militer Amerika Serikat sebelumnya bersikukuh bahwa garis pertahanan mereka di jalur vital tersebut sama sekali tidak dapat ditembus.

"Sedikitnya 10 kapal telah dipaksa berbalik arah dan tidak ada kapal yang menerobos sejak dimulainya blokade," klaim Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui unggahan di media sosial X, Senin (13/4/2026).

Klaim tersebut berbanding terbalik dengan fakta pelayaran di lapangan. Sehari sebelum VLCC RHN bermanuver, kapal super tanker Iran lainnya yakni VLCC Alicia juga sukses membelah perairan Selat Hormuz menuju wilayah Irak. Kedua armada raksasa pembawa energi ini memiliki rekam jejak panjang sebagai urat nadi distribusi minyak Teheran selama beberapa tahun terakhir.

Kendati dua kapal berhasil lolos, tekanan blokade tetap memaksa sejumlah armada lain memutar haluan. Kapal tanker Rich Starry yang juga berada di bawah bayang-bayang sanksi Washington terpaksa kembali ke perairan Teluk, Rabu (15/4/2026), selang sehari setelah berupaya keluar dari kawasan konflik tersebut.

Di tengah eskalasi yang tak kunjung mereda, opsi diplomasi masih dipertimbangkan. Pihak Iran disebut membuka ruang negosiasi dengan menawarkan jaminan pelayaran bebas bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz melalui sisi Oman tanpa risiko serangan militer. Syarat mutlak dari tawaran ini adalah tercapainya kesepakatan komprehensif guna mencegah meletusnya peperangan baru di kawasan tersebut.***