PEKANBARU, GORIAU.COM - Potensi perkebunan sawit Riau yang melebihi 2 juta hektar ternyata selama ini terabaikan oleh bank milik pemerintah daerah, Bank Riau Kepri. Setelah bank-bank BUMN dan swasta nasional menyenyam nikmatnya keuntungan dari sektor perkebunan unggulan Riau ini, akhirnya Bank Riau Kepri mulai membidik pasar ini di awal tahun 2013.

Sebagai bentuk keseriusan, Bank Riau Kepri mengirim para pemimpin kantor untuk belajar mengetahui seluk beluk kebun sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Kebun Percobaan dan Percontohan di Bukit Sentang, Langkat, Sumatera Utara, pada Kamis (07/3/2013). Targetnya, pengetahuan yang didapat bisa menjadi bahan pertimbangan sebelum menyetujui kredit kepada petani dan pengusaha perkebunan.

''Ini dilakukan untuk mengantisipasi tingkat kompetisi yang ketat antar bank dalam menyalurkan kredit di perkebunan sawit dan industri perkebunan sawit. Kita mulai menyusun strategi penyaluran kredit yang bisa diterima pasar diantaranya adalah kebijakan Pro Pasar, yakni kebijakan yang bisa diterima dan bersaing dengan kompetitor. Dan yang kedua, penyaluran kredit kepada sektor yang biasa dikuasai,'' ujar Direktur Kredit dan Syariah Bank Riau Kepri, Afrial Abdullah dalam rilisnya, Kamis (7/3/2013).

Peta Potensi Daerah

Dijelaskan, langkah besar Bank Riau Kepri awal tahun 2013 ini, salah satunya adalah memetakan potensi pasar berdasarkan potensi di daerah masing-masing cabang.

''Contohnyanya di beberapa kabupaten dan kota di Riau, seperti di Kabupaten Rohul, Kabupaten Rohil, Kota Dumai, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar, saat ini menjadi daerah potensial industri perkebunan sawit terbesar di Indonesia. Maka pasar kita akan mendukung ke arah itu. Dan kita akui selama ini sebagai bank daerah, potensi di depan mata ini belum digarap dengan serius,'' jelasnya.

Afrial Abdullah mengatakan, Riau, dengan luas perkebunan sawit lebih 2 juta hektar, menyimpan peluang masuknya produk perbankan yang juga tidak kalah besar. Namun sebagai sebuah bank yang harus menganut azas kehati-hatian dalam setiap langkah khususnya dalam penyaluran kredit, potensi tersebut sebelumnya belum tergarap dengan maksimal. 

https://www.goriau.com/assets/imgbank/07032013/2jpg-61.jpg''Jadi sebelum sampai kesana, kita dari Bank Riau Kepri mengadakan pelatihan khusus dan pembekalan pengetahuan tentang industri perkebunan sawit, ini harus dilakukan sedetil-detilnya. Pengetahuan ini berguna dalam menganalisa calon debitur," ungkap Afrial Abdullah yang memimpin rombongan.

Dijelaskannya, untuk tahap pertama Bank Riau Kepri memilih lokasi Langkat, Sumatra Utara sebagai tempat pelatihan. "Kita pilih tempat pelatihan ini, karena kita nilai Pusat Penelitian Kelapa Sawit ini sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Dan peserta bisa langsung ke lokasi kebun percobaan di Bukit Sentang Langkat, juga ke lokasi pabrik kelapa sawit terpadu PTPN V. Tempat ini adalah tempat pengembangan kelapa sawit yang terbaik di Indonesia," paparnya.

Disini para pimpinan cabang, pimpinan cabang pembantu, pimpinan kedai, dan pimpinan seksi kredit diberikan materi pelatihan pembibitan kelapa sawit, penilian kondisi kebun sawit, pembukaan lahan, pemeliharaan tanaman, penetapan harga, bahkan penelitian. Peserta pelatihan dibimbing oleh banyak tenaga ahli dan praktisi dari lembaga Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

"Dan, tidak hanya industri kelapa sawitnya, namun juga industri-industri turunannya yang terintegrasi dengan kelapa sawit tersebut, seperti peternakan sapi yang menyediakan pangan dari pelepah kelapa sawit," imbuhnya.

Untuk pelatihan dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit dibawah Departemen Pertanian RI ini, telah dilaksanakan tiga angkatan, yakni pelatihan untuk Pimpinan Cabang, Pimpinan Cabang Pembantu, dan Pimpinan Seksi kredit dan analis kredit. Model pelatihan seperti Ini adalah pelatihan pertama dilakukan oleh BPD.

Sektor Lain Juga Digarap

Afrial juga menjelaskan, cabang-cabang dengan potensi daerahnya tidak di perkebunan sawit, tetap disiapkan pelatihan lainnya untuk sektor ekonomi yang mendukung daerah tersebut sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Seperti Pekanbaru dan Batam, didaerah perkotaan, maka sektor perumahan lebih diutamakan. Dalam waktu dekat kebijakan perkreditan untuk investasi kita rubah. Sedangkan untuk perdagangan, kredit kecil dan menengah, maka penyaluran KUR lebih kita utamakan. Apalagi ini menyentuh rakyat banyak diperkotaan.

Sedangkan untuk daerah di Riau Kepulauan, maka sektor perikanan, usaha rumah tangga, rumput laut dan lainnya, lebih kita utamakan. Beda-beda daerah, beda-beda pula sektor yang harus dikuasai.

Inilah upaya kita agar cabang-cabang mendapat pengetahuan yang baru tentang potensi-potensi didarahnya. "Untuk target penyaluran kredit, kita tidak samaratakan lagi di seluruh cabang. Kita lihat bisnis yang prospektif 10 tahun kedepan, apa resikonya, dan apa juga prospek rezekinya. Lalu, kita lihat apa kelemahan kita untuk kita perbaiki, agar menang dalam merebut pasar," papar Afrial dengan semangat. (nti)