SELATPANJANG, GORIAU.COM - Banyak warga di Kabupaten Kepulauan, Meranti Provinsi Riau, menjual tanah galian dalam ukuran kubik (dimasukkan dalam karung, red). Awalnya, tanah-tanah itu hanyalah sisa dari galian saat membuat kolam ikan, namun belakangan tanah itu banyak yang membelinya untuk keperluan pembangunan.
Sebagaimana disampaikan Bujang (45), salah seorang pemilik lahan di Jalan Pelabuhan Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi. Menurut Bujang, awalnya Ia hanya menggali tanah untuk beternak ikan, tapi tanah hasil galian tersebut ada yang membeli, akhirnya masyarakat sejak beberapa tahun terakhir sengaja menggali dan menjual tanah milik mereka.
"Awalnya saya cuma ingin menggali kolam untuk berternak ikan. Cuma entah bagaimana tanah-tanah hasil galian ini ternyata laku dijual sebagai tanah timbun sebagai alas pondasi," ujarnya.
Mayoritas masyarakat Selatpanjang selama ini banyak memanfaatkan tanah timbun dari Tanjungbalai Karimun untuk keperluan konstruksi. Dengan adanya warga yang menjual ini tentunya dapat dibeli lebih murah meski jumlah terbatas.
"Daripada tanah-tanah ini menumpuk mending kita jual. Kolam kita jadi, tanahnya pun dibeli. Saat ini kita jual Rp 55 Ribu perkubik jika ambil di tempat," ujarnya.
Setiap hari terlihat puluhan warga laki-laki dan perempuan menggali tanah-tanah pemilik lahan kemudian memasukkannya ke dalam sebuah karung. Bekas galian mereka ini tampak membentuk kolam-kolam berukuran besar dengan ke dalaman sekitar 2 meter.
Salah seorang buruh gali di lahan sekitar Jalan Pelabuhan, menceritakan upah setuap buruh yakni Rp 500 per-karung. "Kita yang menggali, kemudian memasukkannya ke dalam karung dan mengangkatnya ke tepi jalan diupah Rp 500 per-karungnya," kata Mis, yang tampak membawa istrinya untuk membantu.
Untuk melengkapi satu kubik tanah, cerita Mis, ia harus mengumpulkan sebanyak 18 hingga 20 buah karung. "Rata-rata satu hari saya bisa ngumpulkan sekitar 2 hingga 3 kubik. Lumayan untuk nambah-nambah kebutuhan sehari-hari," ceritanya.
Berdasarkan pantauan, lahan-lahan yang terdiri dari mangroove ini hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari Sungai Suir, Kecamatan Tebingtinggi. Kolam-kolam yang telah selesai digali kemudian dialiri air laut, dan ditaburi benih ikan. Rata-rata kolam-kolam milik mereka diisi dengan ikan siakap yang memiliki nilai jual tinggi di Selatpanjang.
(zal)