
PEKANBARU, GORIAU.COM - Meski sudah ditetakan sebagai status darurat, langkah Pemerintah Provinsi Riau maupun kabupaten dan kota dalam mengantisipasi bencana asap hanya bertempu pada wilayah perkotaan. Tidak halnya dengan warga desa yang jauh dari pusat keramaian, masyarakat merasa tak ada sama sekali perhatian yang diberikan.
Seperti diakui Abdul Rahman, warga Desa Bantayan, Kecamatan Mandah, Indragiri Hilir, Riau. Sejak berbulan-bulan kabut asap menyelimuti, belum satu pun bantuan mengalir, baik itu dalam bentuk pembagian masker, sosialisasi, terlebih penyediaan posko kesehatan.
"Sepertinya Pak Gubernur dan Pak Bupati hanya mikir orang kota yang bakal mati kena asap, kami sama sekali tak diperhitungkan. Padahal kami di sini juga punya nyawa," kata Abdul Rahman, Selasa (6/10/2015).
Menurut Abdul Rahman, wilayahnya termasuk kawasan yang cukup parah, karena selain adanya kebakaran lahan, asa kiriman dari Jambi dan Sumsel lebih dulu singgah di daerah mereka. "Kami hanya baca di koran dan telivisi bantuan ini dan itu, kami disini hanya dapat melihat," sebutnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Rosmiati yang tinggal di Desa Sungaipinang, Kecamatan Tambang, Kampar, Riau. Seharusnya menurut dia pemerintah berpikir ke desa. Sebab seperti pembagian masker untuk wilayah kota, cukup banyak lembaga yang bersimpati.
"Kami melihat pembagian masker dan sebagainya hanya komoditi politik pencitraan. Kalau di kota dibagikan banyak yang sorot, masuk tv dan koran, kalau di sini kan tidak. Mana kerja pemerintah kita untuk masyarakat," ucapnya.(rul)