
SAYA pribadi sangat berterima kasih kepada Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara, yang dengan caranya telah membuka mata dan telinga kami, masyarakat Aceh. Dari tindakannya, kita kembali disadarkan bahwa Aceh sesungguhnya memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang luar biasa besar. Namun, ironisnya, kita sering terjebak dalam kemiskinan, janji politik, dan kepemimpinan yang belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Kasus 4 Pulau Aceh, Tanda Bahaya yang Menyadarkan
Beberapa waktu lalu, muncul klaim terhadap 4 pulau Aceh yang disebut masuk ke wilayah Sumatera Utara. Kejadian itu sontak menggugah semangat rakyat Aceh. Suara penolakan bergema hingga akhirnya Presiden menegaskan kembali bahwa pulau-pulau tersebut tetap bagian dari Aceh.
Dari peristiwa ini kita belajar, pulau-pulau itu ternyata memiliki nilai strategis dan kekayaan besar hingga menjadi rebutan. Di sini kita juga ditampar oleh kenyataan: selama ini kita kurang menjaga dan kurang serius mengelola aset yang kita miliki.
Razia Plat BL, Cermin yang Membuka Kesadaran
Baru-baru ini, langkah Bobby Nasution kembali membuat riuh: razia kendaraan berplat BL (Aceh) di Langkat, Sumatera Utara. Ramai perdebatan muncul di media sosial, banyak yang tersinggung, banyak pula yang bertanya-tanya. Namun, bila kita lihat lebih dalam, ada pesan penting yang terselip:
Plat BL adalah potensi besar. Pajak kendaraan Aceh bisa menjadi sumber pemasukan daerah yang luar biasa. Jika Sumut saja menyadari hal ini, mengapa kita di Aceh tidak pernah serius menatanya?
Apa yang Bisa Kita Petik?
Inilah saatnya pemerintah Aceh bercermin. Bila Sumut bisa menjadikan pajak kendaraan sebagai instrumen kuat Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengapa Aceh tidak?
Warga yang ber-KTP Aceh, tinggal, dan berusaha di Aceh harus menggunakan plat BL.
Tidak boleh lagi kendaraan di Aceh memakai plat BK atau dari daerah lain.
Pajak kendaraan bermotor harus sepenuhnya kembali untuk pembangunan Aceh.
Ini bukan hanya soal regulasi, tapi soal martabat. Jangan sampai hasil keringat masyarakat Aceh justru memperkaya daerah lain, sementara tanah kelahiran sendiri tetap terbelakang.
Momentum Kebangkitan Aceh
Kita harus jujur, kesadaran ini justru muncul dari “kejutan” seorang gubernur tetangga. Bobby mampu melihat potensi Aceh, bahkan menghitungnya dengan cermat. Pertanyaan yang harus kita jawab bersama: apakah kita sendiri sudah benar-benar sadar akan kekayaan kita?
Aceh bukan hanya kaya alam, tapi juga kaya manusia. Kita punya rakyat yang tangguh, pekerja keras, dan siap membangun. Tapi selama pola pikir kita masih terlena oleh janji dan retorika kosong, maka kekayaan itu tidak akan pernah menjadi nyata bagi kesejahteraan.
Ajakan untuk Membuka Mata
Bobby telah memberi kita pelajaran, meskipun dengan cara yang membuat gaduh. Kini pilihan ada di tangan kita. Mau terus menjadi penonton atau bangkit menjadi pengelola dan pemilik sejati kekayaan kita sendiri?
Aceh tidak boleh lagi hanya hidup dari cerita masa lalu dan romantisme sejarah. Aceh harus berdiri tegak di atas kekayaannya sendiri. Saatnya membuka mata, menata langkah, dan memastikan bahwa SDA dan SDM Aceh benar-benar menjadi jalan menuju kesejahteraan rakyat seluruhnya. ***