
ROHIL - Kehadiran hewan buas, beruang liar ditengah-tengah masyarakat RT 01 RW 08, Dusun III Desa Bukit Selamat, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau dalam sebulan terakhir ini adalah sudah kedua kalinya terjadi dalam sejarah masyarakat setempat. Namun penampakan beruang liar kali ini lebih lama dari yang sebelumnya.
"Kami kewalahan sekarang ini. Setiap hari terus saja dihantui beruang. Yang punya ternak ayam, bebek dan lainnya habis jadi santapan beruang hitam itu," kata kata Ketua RT 01 RW 08, Dusun III Desa Bukit Selamat, Sugito kepada GoRiau.com melalui sambungan selulernya, Selasa (17/5/2016) petang.
Untuk mengantisipasi tidak terjadi korban jiwa karena keganasan hewan buas itu, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menurunkan tim konflik untuk melakukan pengecekan ke RT 01 RW 08, Dusun III Desa Bukit Selamat, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Rokan Hilir.
Sosialisasi dilakukan tim konflik BBKSDA Riau dengan staf Dinas Kehutanan Provinsi Riau juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat setempat mengenai cara pengusiran beruang ini saat masuk pemukiman warga. Warga bisa mengusir rombongan beruang dengan bunyi-bunyian meriam atau mercon.
Kepala Seksi Wilayah III, BBKSDA Riau, Hutajulu saat dikonfirmasi GoRiau.com mengatakan medan menuju lokasi penampakan beruang itu sangat sulit. Selain sangat jauh, hampir diperbatasan Rohil dan Sumatra Utara, untuk sampai kesana harus menggunakan kendaraan roda empat doble gardan.
"Informasi dari warga, beruang yang masuk ke pemukiman itu 2 ekor induk, 3 ekor anak beruang. Ternak warga yang di makan yaitu ayam dan sering masuk kerumah warga. Jarak tkp ke Jalan lintas 60 km jalan tanah, beruang itu masuk kepemukiman warga malam hari diatas jam 00.00 WIB," kata Hutajulu.
Selain itu, lanjutnya, kalau siang hari beruang tersebut tidur di semak belukar yang belum terbuka dengan jarak 600 meter ke pemukiman warga. Dimana hutan yang harusnya menjadi habitatnya sudah tidak ada lagi.
"Sekarang bagaimana beruang itu tidak masuk pemukiman, habitatnya sudah dirusak. Dulunya hutan seluas 16 hektar kini hanya lahan kosong yang ditumbuhi semak belukar dekat perkebunan warga yang sisi luarnya pohon sawit yang sudah tua," jelas Hutajulu.***