
JAKARTA -- Sindrom badai sitokin perlu diwaspadai pasien Covid-19. Sebab, dalam beberapa kasus sindrom ini berpotensi memicu kompilasi pernapasan hingga kematian.
Deddy Corbuzier termasuk salah seorang yang mengalami Covid-19 parah karena diserang badai sitokin. Salah satu penyebab keparahan badai sitokin yang dialami Deddy Corbuzier adalah peradangan pada paru-paru yang meluas. Jika inflamasi ini tak tertangani segera dan tepat laksana, kondisi buruk itu dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan paru-paru mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh.
Dikutip dari detikcom, badai sitokin dapat muncul pasca Covid-19 seperti yang dialami Deddy Corbuzier. Komplikasi jenis ini, menurut Ahli Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam, dapat menyebabkan kefatalan jika pasien punya komorbid.
''Badai sitokin bisa semakin memperparah pasien jika dia memiliki riwayat penyakit lain atau komorbid,'' terang Prof Ari melalui pesan singkat, Senin (23/8/2021).
Prof Ari juga pernah terpapar Covid-19 tahun lalu dan sempat mengalami badai sitokin saat menjadi penyintas. ''Seluruh pengalaman saya dituliskan dalam bentuk case report (self reported case) dan dipublikasi di jurnal Q3 agar menjadi pelajaran teman sejawat dokter dalam menangani kasus Covid-19,'' tambahnya.
Prof Ari menerangkan, salah satu obat utama yang dipercaya dapat menangani badai sitokin pasca Covid-19 ialah Tocilizumab. Namun, ia menyayangkan bahwa stok obat ini masih kurang di Indonesia dan juga di tingkat global. ''Padahal obat ini efektif menghambat dan menangani sindrom badai sitokin,'' terangnya.
Tocilizumab merupakan antibodi monoklonal dan antagonis reseptor IL-6 untuk menghambat IL-6, sehingga kondisi pasien yang mengalami badai sitokin tidak bertambah buruk dan membaik.
Prof Ari menambahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah merekomendasikan obat ini untuk kasus berat dan kritis. "Sebab, obat ini dapat mengurangi kematian dan menekan penggunaan ventilator pada kelompok pasien tersebut," katanya.
Gejala Badai Sitokin
Dikutip dari detikhealth, badai sitokin adalah kondisi respons imun tubuh yang berlebihan. Biasanya kondisi tersebut dipicu oleh infeksi. Sitokin sendiri merupakan protein yang mengomunikasikan sinyal-sinyal dalam tubuh untuk merespons infeksi.
Dalam kondisi normal, sitokin membantu mengoordinasikan respons sistem kekebalan tubuh untuk menangani zat menular, seperti virus atau bakteri. Permasalahan pada respons yang dilakukan sitokin dapat merugikan kesehatan tubuh, seperti menyebabkan kegagalan organ dan kematian.
Melansir dari Very Well Health, pada orang yang mengalami sindrom badai sitokin, sitokin tertentu hadir dalam darah dalam jumlah yang lebih tinggi dari batas normal. Pada Covid-19, peningkatan beberapa sitokin inflamasi dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut, yakni penyebab utama kematian pada penyintas Covid-19.
Gejala Badai Sitokin
Badai sitokin dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda. Terkadang berupa gejala ringan seperti flu. Namun, gejalanya juga bisa parah dan mengancam jiwa.
Berikut gejala badai sitokin:
1. Demam dan menggigil
2. Kelelahan
3. Pembengkakan ekstremitas
4. Mual dan muntah
5. Nyeri otot dan persendian
6. Sakit kepala
7. Ruam
8. Batuk
9. Sesak napas
10. Napas cepat
11. Kejang
12. Menggigil
13. Kesulitan mengoordinasikan gerakan
14. Kebingungan dan halusinasi
15. Kelesuan dan daya tanggap yang buruk
16. Tekanan darah yang sangat rendah dan peningkatan pembekuan darah juga bisa menjadi tanda badai sitokin yang parah. Pada kondisi ini, jantung mungkin tidak bekerja sebaik biasanya. Hal tersebut mengakibatkan badai sitokin dapat mempengaruhi banyak sistem organ.
Penyebab Badai Sitokin
Para ilmuwan masih bekerja untuk memahami jaringan kompleks penyebab yang dapat menyebabkan terjadinya badai sitokin. Para ahli menduga, hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa jenis masalah kesehatan yang mendasarinya, seperti sistem kekebalan itu sendiri.
''Biasanya, sitokin bekerja untuk membantu tubuh kita dalam jumlah sedang. Namun pada kondisi tertentu, di mana jumlahnya menjadi terlalu banyak, sistem kekebalan malah menyebabkan kerusakan pada tubuh pasien,'' papar profesor di divisi penyakit menular di University of Cincinnati College of Medicine, Carl Fichtenbaum, dikutip dari detikHealth, Senin (23/8/2021).
Dampak Badai Sitokin
Pengidap badai sitokin pada pasien Covid-19 dapat mengalami demam dan sesak napas yang berpotensi menyebabkan kompilasi pernapasan. Biasanya, kompilasi ini muncul dalam waktu 6-7 hari setelah terinfeksi Covid-19.
Sementara itu, orang dengan sindrom autoimun tertentu memiliki risiko lebih tinggi terkena sindrom badai sitokin. Misalnya, ini dapat terjadi pada penyakit Still, pada arthritis idiopatik remaja sistemik (JIA), dan pada lupus. Dalam konteks ini, badai sitokin sering disebut dengan nama "sindrom aktivasi makrofag''.
Apa bila seseorang mengalami gejala yang parah, seperti kesulitan bernapas, maka diperlukan perawatan di unit perawatan intensif. Dalam beberapa situasi, dimungkinkan untuk mengobati sumber yang mendasari badai sitokin. Misalnya, jika badai sitokin disebabkan oleh infeksi bakteri, maka antibiotik dapat membantu pasien.***