
SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di KM 11 Kecamatan Koto Gasib Kabupaten Siak sering kehabisan stok. Akibatnya, warga yang ingin mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dan solar di SPBU itu sering mengeluh, karena sering tutup. Anehnya, puluhan pedagang minyak jenis bensin yang berjualan di sepanjang jalan KM 11 stok BBM selalu kebanjiran. Dengan selisih hingga Rp2 ribu dari harga di SPBU, warga berlomba-lomba berjualan minyak eceran di pinggir jalan.
"Sudah dua kali saya datang ke SPBU KM 11, selalu tutup, kata orang yang kerja di sana BBM habis. Anehnya, tak jauh dari SPBU, puluhan pedagang minyak berjejer di pinggir jalan dan saya lihat stoknya banyak. Daripada tak ada minyak, terpaksa saya beli juga bensin di pinggir jalan dengan harga Rp8.500 per liter," keluh Andi, warga Siak kepada GoRiau.com, Senin (12/1/15).
Menanggapi persoalan itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Siak, Wan Bukhori mengatakan, pemilik SPBU KM 11 sepertinya kehabisan modal untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Pasalnya, informasi yang diterima dari Pertamina, kata Wan, pemilik SPBU KM 11 tidak mampu membayar DO, sehingga jatah BBM tak bisa diberikan pihak Pertamina.
"Kalau kondisi ini dibiarkan terus, tentu masyarakat yang dirugikan. Saya sudah surati Pertamina agar bersikap tegas kepada pemilik SPBU KM 11, kalau memang tak punya modal untuk bayar DO, cabut saja izinnya atau sewakan SPBU nya kepada pengusaha lain," ujar Wan.
Dijelaskan Kadis, saat ini ada 8 SPBU dan 3 APMS di Siak. Apabila semua SPBU dan APMS itu memiliki manajemen yang bagus dan selalu membayar DO kepada Pertamina, maka stok BBM untuk masyarakat Siak tidak pernah kurang, meskipun ada sebagian SPBU yang menjual BBM kepada pengecer dengan menggunakan jirigen.
"Kuota BBM untuk Siak sejauh ini masih cukup. Tapi kalau ada SPBU yang sering tutup, tentu masyarakat disekitarnya yang dirugikan, sebab terpaksa beli BBM mahal dari pengecer," pungkasnya.(nal)