
PEKANBARU, GORIAU.COM - Dari 7 Rencana Kerja Tahunan Bagan Kerja HTI-IUPHHKHT yang diterbitkan oleh Gubernur Riau 2004, kata dia, negara ini telah kehilangan hutan alam yang seluas 17.314 hektar atau kehilangan kayu alam sebesar 1.550.620,94 m3 dimana rata-rata 89,56 m3 per hektarnya.
Kerugian negara menurut Muslim akan lebih besar jika dilihat dari 10 RKT-BK dan jika jumlah potensi kayu melebihi dari yang disebutkan LHC. Kerugian negara dihitung dari pungutan Dana Reboisasi (DR) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan nilai jual kayu.
"Seluruh hasil kayu dari sejumlah perusahaan tersebut sebelumnya dipasok ke PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP/APRIL Grup)," katanya.
Menurut undang-undang Kehutanan No.41 Tahun 1999 pasal 50 ayat (3) huruf (f), bahwa penerima dan pemberi sama-sama merupakan pelaku yang dapat dikatakan sebagai kejahatan korporasi atau berkomplot.
Kata dia, selain PT RAPP, perusahaan penerima kayu hasil hutan alam atas izin ilegal Gubernur Riau adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP/APP goup).
Juru bicara KPK Johan Budi dihubungi per telepon mengatakan, sejauh ini pihak penyidik masih fokus pada perizinan ilegal yang diterbitkan oleh Gubernur Riau HM Ruali Zainal.
"Sementara untuk TPPU, sejauh ini belum namun tidak menutup kemungkinan akan mengarah ke sana," katanya.
Akibat kasus kejahatan hutan ini, kawasan hutan alam di Provinsi Riau terus mengalami penyempitan luar biasa.
Data terbaru Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) menyebutkan, dari 9 juta hektar kawasan hutan yang ada di Riau, yang berstatus hutan lindung cuma 218.701 hektar atau sekitar 2,42 persen saja.
Sisanya merupakan Hutan Produksi Tetap 1,8 juta hektar lebih, Hutan Produksi Terbatas 1,5 juta hektar lebih, Hutan Produksi yang bisa dikonversi 2,9 juta hektar lebih, hutan suaka alam 600 ribu hektar lebih, area peruntukan lain 1,7 juta hektar lebih dan hutan perairan 100 ribu hektar lebih.
Kondisinya begitu miris, kalau bukan 'kita' siapa lagi yang bakal menjaga kelestarian hutan alam. Hutan yang mulai 'kropos' atau bahkan punah seperti gajah-gajah yang kini kehilangan habitatnya akibat 'manusia-manusia' serakah.(fzr)