
PEKANBARU, GORIAU.COM - Seluruh mesin Indeks Standart Pencemaran Udara (ISPU) milik pemerintah dan perusahaan yang terpasang di sejumlah wilayah di Provinsi Riau pada Kamis (13/3) 'sepakat' menyatakan kualitas udara di daerah ini dalam kategori berbahaya bagi kesehatan manusia.
Data Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau yang diterima pers, Jumat siang (14/3/2014) menyatakan, alat ISPU milik PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) yang terpasang di sekitar Kecamatan Rumbai, Pekanbaru menyatakan tingkat kualitas udara di sekitar mencapai 310 polutan standar indeks (psi), sementara ISPU di kawasan Minas, Kabupaten Siak juga milik Chevron mendeteksi cemaran udara berada pada 388 psi.Kemudian ISPU milik Chevron yang terletak di Duri Camp dan Duri Field berada apada 500 psi, begitu juga di Kota Dumai juga menunjukkan angka 500 psi.Sementara itu alat ISPU milik pemerintah daerah yang berada di tengah Kota Pekanbaru menunjukan angka 345 psi, sementara di Siak Indrapura, mesin ISPU mengarah pada angka 500 psi.Begitu juga di wilayah Kandis, Perawang, Bangko dan sekitaran Panam, Pekanbaru, mesin ISPU milik Chevron dan pemda serentak menunjukkan angka 500 psi.Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zainal Arifin, kepada pers mengatakan, tingkat pencemaran yang berada di atas 300 psi sudah kategori berbahaya bagi kesehatan manusia. "Sebaiknya masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah atau gedung," kata dia.Jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, Rabu (12/3), dari sepuluh mesin ISPU tersebut masih ada satu yang terpasang di Kota Dumai menunjukkan angka di bawah 300 psi.Kondisi polusi kabut asap yang mulai berada pada tingkat berbahaya tersebu membuat para tenaga kerja asing yang ada di sejumlah perusahaan di Riau memutuskan untuk "pulang kampung".Sejumlah masyarakat di Pekanbaru dan berbagai wilayah kabupaten/kota lainnya yang terkena polusi asap juga telah mengungsi ke sejumlah daerah lain dengan kualitas udara lebih baik.Tim Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau sampai hari ini masih terus berupaya mengatasi persoalan klasik itu dengan penerapan bom air (water bombing) dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk hujan buatan.Namun hingga saat ini, upaya yang dilaksanakan sejak dua pekan lalu itu belum menunjukkan hasil maksimal, karena kabut asap pekat masih menyelimuti berbagai kawasan di Provinsi Riau. (fzr/ant)