SELATPANJANG - Sebanyak 5 titik duiker atau gorong-gorong di sepanjang Jalan Peranggas - Kayu Ara Rangsangbarat, Kepulauan Meranti, Riau, tertimbun material. Ini merupakan dampak dari pengerjaan peningkatan Jalan Pelabuhan Peranggas ke Kayu Ara yang dananya bersumber dari DAK Reguler tahun 2016 silam.

Terlihatnya 5 duiker tertimbun material ini, saat Komisi II DPRD Kepulauan Meranti melakukan kunjungan kerja di Rangsangbarat beberapa waktu lalu. Waktu itu, Komisi II DPRD Meranti melihat progres pekerjaan jalan poros Peranggas - menuju Kayu Ara dan peninjauan Desa Bokor.

Hadir langsung saat itu, Ketua Komisi II Darwin Susandy SHum, Dedi Putra SHI, Asmawi, dan E Miratna SH.

Menurut Dedi, hasil pantauan mereka di lapangan, pengerjaan jalan poros Bokor ke Sendaur yang dikerjakan tahun 2017 sangat bagus. Namun, untuk pekerjaan jalan poros Peranggas - Kayu Ara tahun 2016 menyisakan banyak PR.

Diantanya, 5 duiker tertimbun material dari pekerjaan tersebut. Sehingga, mengakibatkan aliran air terganggu ketika turun hujan. "Pekerjaan peningkatan Jalan Poros Peranggas - Kayu Ara 2016 itu banyak yang harus dicari solusi. Terutama masalah tertutupnya 5 duiker," kata Dedi Putra SHI, Sabtu (3/6/2017).

Waktu itu, selain melihat pembangunan jalan poros Bokor - Sendaur, Komisi II yang dipimpin langsung Darwin Susandy juga melihat pembangunan taman dan gazebo di pinggiran Sungai Bokor. Mereka juga melihat kesiapan Bokor menuju desa wisata. "Kita harap masyarakat setempat mendukung penuh pembangunan ini. Tolong sama-sama menjaga," pesan Darwin Susandy.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas PU dan Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Kepulauan Meranti, Hariadi SST MT, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya duiker yang tertimbun saat pengerjaan jalan poros itu. Rencananya, kata Hariadi, perbaikan duiker tersebut akan dilakukan saat pengaspalan. "Tapi kalau anggaran daerah memadai, kita usahakan 2018 nanti. Kita perbaiki nantinya dengan mengganti gorong-gorongnya," ujar Hariadi.

Untuk saat ini, yang dilakukan adalah memberi tanda atau rambu-rambu agar masyarakat berhati-hati. Mereka tak ingin nantinya ada yang terjatuh. "Untuk saat ini, kita kasih tanda-tanda supaya masyarakat berhati-hati," tambah Hariadi.

Untuk pembuatan satu titik gorong-gorong itu, menurut Hariadi biaya yang dikeluarkan kurang dari Rp200 juta. "Perkiraan, satu titik gorong-gorong itu nilainya antara Rp140 juta hingga Rp160 juta," ujarnya. ***