PEKANBARU, GORIAU.COM - Asosiasi Petani Sawit Marhaen (APSM) Riau mencium aroma tak sedap dari turunnya harga kelapa sawit secara terus menerus. Dugaan sementara, ada motif monopoli yang akan dimainkan perusahaan-perusahaan untuk menguasai perkebunan rakyat karena semakin sempitnya areal yang bisa dilakukan pengembangan kebun kelapa sawit.

''Saat ini areal yang bisa digunakan untuk pengembangan kelapa sawit semakin sedikit. Hampir di semua provinsi, izin hak guna usaha (HGU) semakin sulit didapat. Sementara sebagian besar kebun sudah dikuasai rakyat baik melalui plasma maupun perkebunan rakyat mandiri. Salah satu cara tentunya dengan membeli kebun yang sudah ada khususnya kebun rakyat. Dengan turunnya harga sawit, rakyat pasti menjerit, dan yang tak sanggup akan menjual kebunnya,'' ujar Ketua APSM Riau Roland Aritonang kepada wartawan, Kamis (29/11/2012).Aroma ini, tambah Roland Aritonang, sangat terasa di Riau dimana banyak pekebun kecil yang sudah tidak sanggup mengelola kebun karena hasil yang didapat tidak sesuai dengan operasional akhirnya dijual kepada pengusaha dengan harga murah.''Memang pembelian itu tidak langsung dilakukan oleh perusahaan, tapi melalui oknum-oknum perusahaan, kita curiga itu. Motif ini bisa menghancurkan pekebun kecil. Karena itu, APSM mendesak pemerintah mengeluarkan regulasi ekspor langsung tanpa melalui perusahaan. Jadi perkumpulan petani bisa mengekspor langsung tanpa harus menjual ke perusahaan-perusahaan yang sudah ada. Pemerintah harus memberi ruang kepada petani atau organisasi petani mengekspor langsung,'' tegasnya. (rdi)