Siang yang cerah, Syarief sedang makan di rumahnya, tiba- tiba Ummi mendekatinya seraya berkata.

“Sudah ketemu sama Bu Aini?”

“Untuk apa?” tanya Syarief

“Tadi beliau mencari kamu, katanya kamu di suruh ke tempat pengajiannya nanti siang.”

“Mengajar?”

“Kata Bu Aini begitu, untuk menggantikan kakak mu yang sudah ke Banda Aceh.”

“Ya Ummi, nanti Syarief ke sana.” jawab Syarief, lalu ia sudahi makannya dengan pikiran yang penuh tanya, bisa kah aku mengajar?, Lalu ia pun bangun dan bersiap-siap untuk menunaikan Salat Dhuhur.

Selesai Salat, Syarief memakai pakaian yang bagus bersama sarung dan pecinya, ia pergi ke tempat pengajian Bu Aini yaitu, TPA Raudhatul Mubtadi, yang berada di desanya juga, setiba di sana, Syarief memandang banyaknya santri cilik yang bercanda-canda dan berlarian dengan kawan-kawannya.

Waktu belajar pun tiba, Ustadzah Eliana, selaku seksi pengajian di sana, Beliau menyerahkan kelas kepada Syarief, yaitu kelas kakaknya yang dulu, dan beliau juga memperkenalkan kelas-kelas lain, yang mana kelas di samping kelasnya Syarief adalah kelasnya Aisya, dia yang menjadi wali kelas di sana.

Tak lama kemudian, Aisya pun naik ke balai, ia duduk di kelasnya, dengan sedikit kaget karena keberadaan Syarief di sini.

Maka Mulailah Syarief, Aisya dan guru-guru lain mengajarkan anak-anak mereka sampai jam lima sore.

Pada saat pulang, para santri bersalaman dengan guru mereka, lalu mereka pun turun dari balai untuk pulang, begitu pula Syarief dan Aisya, mereka juga pulang, yang kebetulan mereka turun dari balai secara berdampingan.

“Alhamdulillah, kita ketemu lagi ya!” kata Syarief kepada Aisya.

“Ia kak…” jawab Aisya dengan senang hati.

“Sudah lama ngajar di sini?” tanya Syarief.

“Sejak Aisya tinggal di sini.”

“Oia… ada yang mau kakak omongin sama Aisya!” kata Syarief.

“Apaan kak?” tanya Aisya penasaran.

“Nanti malam ya! Kakak mau pulang dulu.”

“Ia kak” jawab Aisya sambil masuk ke rumahnya dengan senang hati, karena terasa dekat sama Syarief.

***

Pada malamnya Syarief kembali melanjutkan proses belajarnya, tetika ia tiba di sana, dari jauh ia sudah melihat Aisya yang sedang duduk di tangga balai bersama kitab di pangkuannya. Syarief pun mencoba mendekatkan diri untuk mendekati Aisya.

“Boleh kakak duduk di situ?” tanya Syarief sambil menujuki tempat kosong di samping Aisya.

“Boleh” jawab Aisya sambil ia geser ke pinggir, supaya bisa duduk yang tidak berdekatan.

Maka Syarief pun duduk di samping Aisya dengan perasaan yang gemetar, walau hati yang terdalam terasa berbunga-bunga, begitu pula Aisya, ia juga merasakan hal yang sama, walau ia sedikit takut, takut Bu Aini marah, karena duduk sama Syarief.

“Aisya betah tinggal di sini?” tanya Syarief

“Sebenarnya tidak!” jawab Aisya sambil menggoyangkan telunjuknya di atas kitab yang ada di pangkuannya, untuk membuang rasa takut, dan grogi.

“Tapi, kenapa nampaknya Aisya biasa-biasa saja? Bahkan lebih ceria!” tanya Syarief lagi.

“Biar pun Aisya tertawa, tersenyum, hidup penuh dengan kecukupan, tapi sebenarnya Aisya sangat sedih kak, apa lagi ketika malam yang sunyi, ketika semua orang sudah tidur, saat itulah Aisya meneteskan air mata.” kata Aisya yang mencoba mencurahkan semua kesedihannya kepada Syarief, ia berharap Syarief bisa membantunya. Lalu Aisya menutupkan wajahnya dengan hijab, karena ia takut nanti air matanya menetes

“Eum... Maaf ya, kalau boleh kakak tau, Aisya... masih punya orang tua?” tanya Syarief pelan.

“Kalau ibu masih, bapak yang sudah lama tiada.”

Mendengar kata-kata itu dari mulut Aisya, maka Syarief pun melihat ke arah Aisya dengan perasaan yang berbisik kata-kata sayang, seakan-akan ia ingin merangkul bahu Aisya untuk memadamkan kesedihan di hati Aisya, namun Syarief mencoba menyenangi hati Aisya dengan kata-katanya.

“Aisya jangan sedih ya, seperti yang kakak bilang dulu sama Aisya, kalau cerita hidup kita itu sama. Dahulu kakak juga hidup seperti Aisya, tinggal di desa orang yang jauh dari orang tua, dan orang tua kakak yang laki-laki juga telah tiada, bahkan kakak tidak sempat mengenalnya, karena beliau pergi ketika kakak masih dalam ayunan, dan mulai malam ini, anggap saja kakak ini adalah kakak Aisya.”

.

Aisya yang mendengar kata-kata itu, ia menoleh ke arah Syarief, dan menatapnya dengan hati yang merasa tenang, ia bagaikan seseorang yang mendapat tempat berteduh ketika berada dalam terik mentari. Sementara Syarief ia merasa grogi karena tatapan Aisya sangat tajam hingga menembus hatinya, seraya ia mengalih pandangannya ke arah lain.

“Tapi… bapak Aisya, pergi ketika Aisya duduk di kelas 4 SD!” ujar Aisya. Lalu ia bangun seakan-akan ingin membuang rasa sedihnya, dan duduk di tempat duduknya.

Sementara Syarief, ia masih duduk dan memikirkan nasib Aisya yang pernah ia rasakan dulu, apa lagi Aisya adalah seorang wanita, berbeda denganya seorang laki-laki, seraya Syarief berkata dengan lirih, “Ya Allah, tenangkanlah sekeping hati bidadarimu itu!”

Lalu Syarief bangun dan duduk di tempatnya, yaitu dalam kawanan laki-laki, tepatnya di samping Rajul, dan Sulaiman. maka ia juga membuka kitabnya untuk mengulang pelajaran malam kemarin, bersama teman-teman lainnya.

Dengan asik Syarief, Aisya dan teman-teman lainnya mengulang pelajaran mereka, tiba-tiba Syarief melihat pensil di tangan Aisya, maka ia pun bangun, dan mendekatinya, hendak meminta pensilnya untuk menulis makna-makna kitab yang tak tertulis malam kemarin.

“Boleh pinjam pensilnya Sya?” minta Syarief

“Boleh kak.” jawab Aisya sambil memberikan pensilnya pada Syarief.

Syarief mengambilnya dan kembali ke tempatnya untuk menuliskan makna kitabnya, sedang-sedang ia menulis, tiba-tiba mata pensil tersebut patah karenanya, ia merasa takut, takut Aisya gak punya pensil lain. Maka ia kembali mendekati Aisya.

“Maaf ya, pensilnya patah.“ kata Syarief sambil memperlihatkan pensil Aisya yang sudah patah.

“Gak papa kak, Aisya bawa pisau kok kak.“ jawab Aisya perhatian, sambil mengambilkan pensilnya di tangan Syarief untuk diruncingkan kembali.

“Biar kakak aja yang meruncingkannya Sya!“

“Gak papa, biar Aisya ja.” jawab Aisya lembut

“Kakak yang patahin, jadi kakak yang runcingkan kembali.” kata Syarief sambil mengambil pensil itu di tangan Aisya. Sementara Aisya, ia mulai mengayunkan pisaunya.

“Aduh...” suara yang keluar dari mulut Syarief karena tangannya tergores oleh pisau yang di hayunkan Aisya.

“Ya Allah, maaf ya kak, maaf ya…!” rintih Aisya, ia cepat-cepat meletakkan pensil dan pisaunya di lantai, tanganya terlihat bergetar, sambil sesekali ia garuk kepalanya, karena ia tidak tau harus berbuat apa.

Sementara Rajul yang melihat peristiwa itu, ia mendekati mereka, dan berkata kepada Aisya.

“Carilah, sarang laba-laba putih Sya!”

Aisya bangun dan mencari sarang laba-laba putih, yang menempel di sudut-sudut balai, untuk membalut luka Syarief. Sementara Syarief, ia menutup lukanya dengan tangannya supaya darah tidak keluar.

Tak lama kemudian Aisya pun kembali, dan melutut di depan Syarief.

“Maaf ya kakak! Ini, balutlah!” kata Aisya dengan perhatian sambil menyerahkan sarang laba-laba.

“Ia Sya.” jawab Syarief sambil tersenyum dan membalut lukanya.

Aisya duduk di samping Syarief, dengan perasaan yang masih merasa bersalah, karena melukai laki-laki yang baru 15 menit jadi kakaknya. Laki-laki yang sudah bersedia menemaninya, sehingga ia tidak tau harus berbuat apa untuk menutup kesalahannya, lalu ia pun mengambil pisau tadi, dan ia berikan untuk Syarief.

“Peganglah kak!” suruh aisya

“Untuk apa?” tanya Syarief sambil mengambil pisau tersebut.

“Balas lah... lukailah tangan Aisya!” kata Aisya sambil mengulurkan tangan kirinya ke depan Syarief.

Syarief tercengang, dengan hati yang penuh tanya, kenapa Aisya begini? Walau hatinya sangat kagum dengan rasa tanggung jawab Aisya, yang telah melukai tangannya. Maka Syarief pun mengangkat pisau itu, ia arahkan ke tangan Aisya yang terlihat sangat putih, tanpa goresan. Semua teman-teman terdiam, mereka mencoba menyaksikan apa yang dibuat oleh Syarief. Sementara Aisya, ia memejamkan matanya dengan hati yang berteriak, tegakah lelaki ini menggoreskan tanganku?