Besok harinya, dalam suasana sore, Syarief yang sudah siap dengan sarung dan pecinya, ia sedang bejalan menuju Mushalla untuk melakukan Shalat Magrib berjama’ah.
“Kapan pulang Rief...?” tanya Ustadz Hasan, yaitu salah satu Ustadz di desanya, yang tiba-tiba ada saja di depannya.
“Baru kemarin Ustadz.†jawab Syarief sambil bersalaman dan mencium tangannya.
“Kenapa pulang?â€
“Syarief sudah keluar Ustadz, jadi tidak lagi di pesantren.â€
“Kalau tidak lagi di pesantren, setiap malam ke tempat pengajian Ustadz ya! biar kita belajar bersama.â€
“Baik Ustadz, jadi kita belajar kitab apa Ustadz?†Â
“Fathul Mu’in (I’annathuth Thalibin).â€
“Ia Ustad...“ jawabnya sambil menunduk malu sebagai rasa hormat kepadanya.
Lalu Ustadz Hasan pun pamit untuk pulang karena Magrib akan tiba, dan Syarief kembali melangkah ke mushalla, setiba di sana ia mengambil sapu untuk menyapu Mushalla yang terlihat berdebu, Â apalagi kini membersihkan musala, sudah ia anggap sebagian dari tugasnya.
Selesai ia menyapu, lalu ia keluar untuk berwudhuk dan melakukan Shalat Magrib secara berjama’ah, bersama Ustadz Hanafi, selaku imam di desanya, dan diikuti juga oleh beberapa Ma’mum lainnya.
Selesai salat, yang disertai dengan doa bersama, Syarief langsung pulang untuk mengambil kitab dan pergi ke tempat pengajiannya Ustadz Hasan, yaitu Dayah[1] Syifaul Qulub, yang terletak di kota, tidak jauh dengan desa di mana Syarief tinggal, setiba di sana ia melihat banyaknya santri-santri dan santriwati, ia juga melihat tempat belajar yang berbanja-banja, dengan nama yang berbeda-beda. Sehingga Syarief berfikir sejenak, kelas Ustadz Hasan yang mana ya? Maka ia pun bertanya kepada salah satu santri yang masih berkeliaran di halaman pesantren.
“Balai Ustadz Hasan yang mana ya?â€
 “Yang itu!†jawab santri itu sambil menunjuk balai yang paling belakang, yaitu Balee Angeen[2].
“Terima kasih ya!†ucap Syarief, lalu ia pun menuju ke sana.
Ketika Syarief menaiki tangga balai tersebut, Para santri lain semuanya mata tertuju kepadanya, maklum, karena ia adalah santri baru, mereka tertanya-tanya, “Siapa ya? Siapa ya?â€
Syarief pun duduk dalam kawanan laki-laki, yaitu di samping Rajul dan Sulaiman, seraya ia bersalaman dan berkenalan dengan mereka. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke depan, yang mana, di sana banyaknya santriwati yang bersarung dan berhijab cantik, bersama kitab di depan mereka, salah satu yang ia lihat di sana adalah Aisya, yaitu keponakan Bu Aini, yang menghidangkan air untuknya semalam. Sementara Aisya, ia hanya menunduk, sambil hatinya berkata, “Akhirnya ketemu juga sama laki-laki itu.â€
Tiba-tiba Syarief menyolek Rajul, dan bertanya “Itu siapa?†Tanya Syarief sambil matanya menunjuki sorang wanita di depannya, yang terlihat paling cantik, senyumnya manis, dan matanya yang memikat.
“Itu Mista, dia motivasi bagiku.†jawab Rajul.
“Kenapa begitu?â€
“Dulu, aku bisa hafal semua isi kitab ini, karena cintaku kepadanya, ya karena malu sama dia, kalau aku gak bisa.†jawab Rajul sambil memperlihatkan kitab Tahrirul Aqwal kepada Syarief.
Syarief tersenyum, karena kuatnya motivasi karena cinta. Bagi Syarief aneh, kok karena cinta sampai bisa hafal semua isi kitab ya?
 Tak lama kemudian, Ustadz Hasan pun tiba, beliau duduk di tempatnya dan memulai belajarnya, sampai jam 10 malam.
Pada saat pulang, Syarief pulang dengan sendirian karena belum punya teman. Dalam perjalanan, ia merasakan kalau di belakangnnya ada yang berjalan mengikutinya, yaitu Aisya, namun ia tidak berani menoleh, tapi rasa-rasanya ia ingin berbicara dengannya, akhirnya ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, lalu ia tatap Aisya yang jauh kira-kira 5 meter darinya, Aisya pun menatap Syarief dengan perasaan malu, sambil tersipu.
Ketika perjalanan Aisya itu sudah dekat dengan Syarief, maka Syarief pun bertanya, dengan perasaan masih segan, karena orang baru ia kenal.
“Ukhty, murid Ustadz Hasankan?†tanya Syarief
“Ia, panggil Aisya saja!â€
“Ia, ia, jadi Aisya sekolah di sini?â€
“Ia, oia dulu kakak tinggal di mana?†tanya Aisya.
“Di Kota Sigli!†jawab Syarief.
“Aisya tau gak? kalau cerita hidup kita itu sama, dulu kakak juga tiggal sama bibi, seperti Aisya sekarang.†sambung Syarief.
Aisya tersenyum, seraya menjawab, “Aisya tau kok! Semalam Aisya dengar obrolan kakak sama Ibu.â€
Sambil berbincang, dan saling memperkenalkan diri, maka mereka pun sampai di rumah masing-masing yang kebetulan rumah mereka berdekatan.
“Duluan ya kak Syarief?†pamit Aisya.
“Ia Aisya...†jawab Syarief sambil tersenyum.
Aisya pun membalas senyuman Syarief, sambil masuk ke rumahnya dengan hati bahagia, karena senang bisa berteman dengan Syarief, yaitu laki-laki yang mempunya cerita hidup sama dengannya, Syarief juga senang bisa berteman dengan Aisya, si gadis desa, yaitu keponakan Bu Aini.
[1] Dayah (pesantren) berasal dari kata “Zawiyah†yaitu Sudut Mesjid
[2] Balee Angeen : Balai Angin (Bahasa Aceh) , nama untuk kelasnya Ustadz Hasan.




















