
KAMPAR, GORIAU.COM - Seorang ibu yang diduga stres lalu bunuh diri di jembatan kedua PLTA Koto Panjang, Kampar karena anaknya mendapat jatah sebagai seorang mahasiswa undangan di salah satu perguruan tinggi negeri di Pekanbaru, Riau, sebelum melaksanakan niatnya sempat menyebutkan perutnya mual.
''Saat dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Sumbar, setibanya di jembatan kedua Batu Bersurat, korban minta diturunkan dari mobil karena merasa mual ingin muntah dan setelah mobil berhenti, korban keluar dan langsung terjun ke bawah jembatan,'' ujar Ibrahim Hasan (29) sopir yang membawa kendaraan dalam laporannya kepada kepolisian.
Sementara itu Kapolres Kampar AKBP Ery Apriyono SIk melalui Humas Polres Kampar Deni Yusra mengatakan, peristiwa itu terjadi Minggu (1/6/2014) dan sudah dilaporkak ke Polsek XIII Koto Kampar. Dalam laporan ke Polres, Ibrahim Hasan, (29), sopir, Islam, alamat Jalan Khatib Sulaiman RT 006/ RW 007 Desa Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, memberitatukan bahwa ada salah satu keluarganya jatuh dari atas jembatan kedua Batu Bersurat dan langsung tenggelam ke dalam danau.
Korban yang meninggal bernama Erna Delita (45), IRT, Alamat Desa Koto Gadang Guguk Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok, Sumbar. Saat kejadian ada saksi - saksi diantaranya anaknya Elsa Septia Putri (18), suami korban, Oyong Liza dan keluarga korban Riri.
''Setelah dilakukan pencarian terhadap korban dengan dibantu oleh masyarakat setempat, beberapa waktu kemudian korban berhasil ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dan oleh anggota Polsek dibawa ke Puskesmas XIII Koto Kampar untuk divisum,'' jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang ibu rumah tangga (IRT) nekad terjun bebas di PLTA Kota Panjang, Kampar, persisnya jambatan kedua mengarah ke Sumatra Barat (Sumbar), tadi pagi, Ahad (1/6/2014), sekitar pukul 06.00 WIB.
Setelah tiga jam lebih dilakukan pencarian oleh Tim SAR dan melibatkan orang pandai, sekitar pukul 09.00 WIB, korban ditemukan dalam keadaan kaku dan tak bernyawa lagi.
Tindakan nekad itu diduga pihak keluarga dekat terkait anaknya yang menjadi mahasiswa undangan di salah satu universitas di Riau.
Yondri, salah seorang keluarga dekat korban yang berada di Pekanbaru, menceritakan, korban bersama suaminya, Oyong Liza, ke Pekanbaru mengurus masalah diterima anaknya sebagai mahasiswa undangan di salah satu universitas di Pekanbaru.
Ada syarat-syarat yang harus dilengkapi, dan ini tidak mendesak. Tapi, sang anak sibuk meminta kepada orang tuanya secepatnya memenuhi syarat tersebut. ''Masalah ini agak mencair setelah saya menelpon kawan di universitas itu dan masalah syarat itu bisa menyusul,'' ucap Yondri.
Setelah masalah ini cair, korban dan keluarganya pulang kampung. Sampai di jembatan kedua PLTA Kota Panjang, korban mengaku pada supir, kepalanya pusing dan mau muntah. Sopir pun memakirkan mobilnya dan melihat korban berjalan ke belakang mobil.
Tapi bukan mainnya terkejutnya sang sopir dari kaca spion sebelah kiri dia melihat korban meloncat ke danau. Begitu mengetahui hal ini, suaminya Oyong, dan pihak keluarga lainnya mencoba mencari korban. Sayang tak diketemukan.
Tak kuat menanggung rasa sedih, sesaat kejadian suami korban pingsan. Bahkan, sampai jasad istrinya sudah ditemukan, Oyong belum juga siuman. ***