SELATPANJANG - Kedatangan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) ke Kabupaten Siak dinilai pakar lingkungan DR Elviriadi sebagai pembuktian negara telah membungkuk pada aktor ekocide (pemberangus ekosistem). Sementara, saat ini sepak terjang aktor ecocide telah menyumbangkan permasalahan asap dan kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) di bumi pertiwi.

Demikian diungkapkan DR Elviriadi kepada GoRiau.

Kata Elviriadi, problem asap dan Karlahut yang terjadi, sesungguhnya adalah masalah struktural, dalam arti regulasi, perizinan dan hukum tatanegara terkait budidaya di lahan gambut. Hutan dan lahan mengalami ecocide yang sistematis dan massif. "Jadi, jangan kaget kalu asap mengepul," ujar Elviriadi.

Menurut Elviriadi lagi, meski kejadian ini sering terulang, anehnya pemerintah tidak pernah mengemukakan statement atau skema penyelesaian Karhutla dari pendekatan struktural. Dicontohkan dosen UIN Suska Riau ini lagi, pemerintah membuat komisi pemberantasan mafia sumberdaya alam atau menggunakan otoritas konstitusionalnya.

"Malah yang akan dilakukan di Siak nanti berupa tabur 100.000 ekor ikan di sungai (Siak) dan memberi anugerah adipura pura, adiwiyata dan dialog bersama masyarakat. Ini gaya tokoh spiritual yang menyeru umat, lebay habis," kata lelaki bertubuh gempal itu lagi.

Lalu, disarankan pakar lingkungan ini, pemerintah melalui menteri Siti harus segera meresmikan perhutanan sosial, dan memberikan kembali hak rakyat atas tanahnya. Kuatnya aktor ecocide tersebut, negara memberi respon minimalis terhadap karhutla.

Pemerintah hanya membuat Badan Restorasi Gambut (BRG) yang hanya bekerja dari aspek konservasi dan rehabilitasi. Ibarat anak anak memain sabun, hanya buih sabun tumpah yang di pel petugas BPBD, TNI, Satgas, Manggala Agni, dan lain-lain. Sementara budak budak pangaduk sabun di ember terus dibiarkan.

Menurut analisanya pula, Elvi mengatakan jika kebijakan lebay ini berlarut, dan diikuti elnino, maka asap yang keluar di penghujung tahun 2016 akan berwarna kuning. Warna kuning disebabkan lapisan pirit dan unsur biokimia gambut turut terbakar, kelanjutan dari kedalaman gambut yang terbakar tahun 2015 Lalu yang mencapai 3 meter.

"Kalau sudah kuning, maka angka kematian bisa bertambah cepat. Saya minta ilmuan ngomong dong, jangan selingkuh terus sama pemerintah," harapnya. ***