PEKANBARU - Awal bulan Juni-September 2016, Provinsi Riau mulai memasuki musim kemarau. Kekhawatiran terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pun menghantui wilayah pesisir Riau, seperti Kabupaten Rokan Hilir, Dumai dan Bengkalis. Jika sampai kebakaran tak terhindarkan, wilayah ini dikhawatirkan akan sangat mudah mengirimkan asap ke negeri tetangga.

Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi Rachman telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor Kpts 580/VI/2016 tentang penetapan perpanjangan kedua status siaga darurat penanggulangan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau Tahun 2016.

Perpanjangan status siaga darurat penanggulangan bencana asap akibat karhutla di Riau sebagaimana dimaksud diktum kesatu berlangsung selama 149 hari terhitung 5 Juni 2016 sampai dengan 30 November.

Dalam SK Gubernur tersebut menerangkan, berdasarkan prediksi kondisi cuaca oleh stasiun Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, diperkirakan kekuatan El Nino melemah pada bulan Mei hingga Juni 2016 dan pada periode Juli-Agustus diprediksi  fase normal. Namun, Juni-September 2016 musim kemarau mewaspadai di wilayah pesisir seperti Rokan Hilir, Dumai dan Bengkalis. Ditambah dengan arah angin pada tenggara hingga selatan menuju utara hingga timur laut dikhawatirkan asap mengarah ke negara tetangga.

Hal iti diperkuat dengan Surat Keputusan Bupati Kepulauan Meranti Nomor 222/HK/KPTS/VI/2016 tanggal 3 Juni 2016 tentang ditetapkannya status siaga kebakaran hutan dan lahan di Kepulauan Meranti.

Menyusul, Kabupaten Pelalawan melalui Surat Nomor Kpts.660.1/4747/2016 tertanggal 1 Juni 2016 telah ditetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pelalawan.

Sementara itu, Kabupaten Rohil, Siak, Kampar, Dumai, Pekanbaru sedang mengkaji untuk penetapan dan perpanjangan status siaga darurat karena termasuk daerah yang rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Hingga Jumat (10/6/2016) siang, Satgas darat penanggulangan karlahut Riau fokus untuk memadamkan kobaran api yang menghanguskan 30 hektar lahan di Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan Riau.

Selain satgas darat, pemadaman juga dibantu dengan satgas udara yang melakukan bom air (waterbombing) dengan menggunakan helikopter. Beratnya medan dan jauh di pedalaman membuat regu harus kerja ekstra, sembari tetap berpuasa.

Bahkan, informasi dari Kalaksa BPBD Pelalawan mengatakan bahwa ada anggotanya yang jatuh pingsan di perjalanan, disebabkan teriknya matahari dan tidak ada tempat berteduh di tengah semak belukar. "Medannya sangat berat," ujar Kasibaseops Disops Lanud Roesmin Nurjadin, Mayor Lek Ferry Duwantoro. ***