PEKANBARU - Pekanbaru tergolong kota yang mengalami peningkatan investasi tahun 2021. Bahkan hingga September 2021 lalu, total investasi tercatat Rp3,9 triliun meski kondisi sedang tidak normal karena terkena dampak pandemi. Namun meski angka investasi tinggi, kasus kesehatan masih menjadi sorotan salah satunya adalah angka stunting yang disebabkan kekurangan gizi kronis.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru kasus stunting di Kota Pekanbaru masih terus terjadi. Sepanjang tahun 2021, setidaknya terdapat 300-an balita yang mengalami gagal tumbuh akibat dari gizi buruk. Stunting ini disebabkan kekurangan gizi kronis pada anak, terutama di 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Akibatnya anak tidak dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Dalam tahap yang kronis, stunting dapat mempengaruhi fungsi kognitif anak. Dimana tingkat kecerdasan menjadi rendah dan berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Suherman mengatakan kebijakan Provinsi Riau tidak sesuai dengan keinginan para kader-kader yang ada di Posyandu. "Yang kurang dari pemerintah masalah stunting ini adalah tambahan makanan atau gizi, itulah yang kurang dari pemerintah provinsi ataupun kota," katanya, Rabu (19/1/2022).

Lanjut politisi Hanura ini, ketika dia turun ke lapangan untuk memantau kasus stunting. Para kader Posyandu harus merogoh koceknya sendiri untuk membantu para balita yang mengalami gizi buruk. "Ini yang kita sayangkan, pemerintah harus lebih memperhatikan kasus stunting ini," jelasnya.

Kurangnya pasokan makanan ataupun gizi untuk para balita yang mengalami gizi buruk ini dikatakan Suherman karena pemerintah tidak memasukkan pasokan makanan ataupun obat-obatan untuk menangani gizi buruk.

"Kader-kader Posyandu sudah mengeluh, solusinya pemerintah harus segera menangani ini. Termasuk juga menambahkan anggaran untuk gizi buruk dan masyarakat yang kurang mampu," tutupnya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Pekanbaru, Zaini Rizaldi Saragih banyak faktor yang menyebabkan stunting pada anak, faktor-faktor penyebab ini saling berhubungan.

"Menurut Unicef Framework ada tiga faktor utama penyebab stunting yaitu asupan makanan yang tidak seimbang, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan riwayat penyakit. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)," ujarnya, Jumat (7/1/2022).

Menurutnya, Diskes Kota Pekanbaru melakukan upaya penanggulangan stunting dengan dua intervensi. Yaitu gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

Selain itu, penanggulangan stunting juga memerlukan pendekatan menyeluruh. Dimana butuh komitmen dari semua pihak, termasuk kebijakan politik dan pemerintahan, serta pihak lainnya.

Pemko Pekanbaru menangani permasalahan stunting melalui perbaikan gizi pada 1.000 HPK, dengan menggencarkan sosialisasi ASI eksklusif, pendidikan gizi untuk ibu hamil, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA), program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih serta sanitasi. ***