BAGANSIAPIAPI – Suara menderu memecah keheningan dini hari, disusul kepanikan luar biasa warga yang bermukim tak jauh dari bibir pantai perairan lepas Rokan Hilir. Sebuah pusaran angin puting beliung mengamuk dan menghantam kawasan permukiman di Jalan Resetlemen, Dusun Sungai Sampai Niat, Kepenghuluan Panipahan, Minggu (8/11/2026) sekira pukul 02.00 WIB.

Amukan angin yang berlangsung hampir setengah jam tersebut memicu ketakutan mendalam. Pusaran udara dengan beringas mencabut paku-paku pengikat atap seng hingga merobohkan sebagian dinding rumah warga. Banyak kepala keluarga di Kecamatan Pasir Limau Kapas itu harus merelakan hunian mereka porak-poranda.

Dampak terparah dialami oleh keluarga Anto (39). Saat musibah terjadi, ia beserta sang istri, Nisa, tengah tertidur pulas sebelum dikejutkan oleh suara bising perabotan dan material bangunan yang berjatuhan. Menyadari ancaman di depan mata, pasangan suami istri ini bergegas menyelamatkan diri ke area yang lebih aman.

"Kejadiannya sekitar jam dua dini hari, saat kami tidur pulas dan terbangun mendengar suara riuh yang kencang. Ternyata angin puting beliung," kisah Anto saat menceritakan detik-detik menegangkan tersebut.

Demi menghindari amukan badai, Anto segera membangunkan keempat buah hatinya yang masih di bawah umur, yakni AA (14), AN (11), AL (4), serta si bungsu AP (1,5). Mereka semua berlindung bersama hingga pusaran angin benar-benar reda. Beruntung seluruh anggota keluarga selamat, meski tempat tinggal mereka mengalami rusak berat.

Ketua RT 02 Dusun Sungai Sampai Niat, Dedi Irawan, turun langsung meninjau lokasi kejadian pada pagi harinya untuk melihat situasi terkini warga. Ia membenarkan kediaman warganya tersebut menjadi salah satu titik dengan tingkat kerusakan paling parah.

"Atap rumah Bang Anto bolong semua karena diterbangkan angin. Isi perabotan rusak, bahkan peralatan dan buku-buku sekolah anaknya yang masih SMP dan SD basah hancur," terang Dedi.

Hingga saat ini, perangkat rukun tetangga setempat terus bergerak menyambangi rumah-rumah warga secara bergantian guna melakukan pendataan akurat terkait total kerugian materiil serta kebutuhan mendesak para korban.

"Saya masih mendata dari pintu ke pintu untuk melihat langsung kondisi rumah warga. Ada yang rusak berat seperti rumah Anto, ada juga yang kondisinya rusak ringan. Warga kami sangat membutuhkan bantuan saat ini," harap Dedi. ***