
SIANG itu, Kamis (20/3/2014), kegaduhan terjadi di satu ruangan sempit yang berada di dalam Kompleks Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.
Seseorang dengan wajah paling tua berada di antara dua pria berbaju loreng dan di paling sudut ada pria berpakaian coklat-coklat tampak gugup. Wajahnya memucat mendengar pernyataan lembut seorang jurnalis yang 'membangkang'.Padahal, baru saja ia memarahi perwira polisi dengan 'dua bunga' dipundaknya. Namun dia yang menyebut dirinya seorang Gubernur Riau, mengerutkan kening, sesaat setelah juga menyatakan; "Pemberitaan itu bohong."Pemberitaan yang dimaksud adalah tentang kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap gubernur yang tidak hadir dalam perbincangan lewat sambungan telepon di Mapolda Riau akhir pekan lalu.Jari tangan pak tua menunjuk-nunjuk tak jelas maksud dan tujuannya, namun sesaat itu pula keluar pernyataan membentak dari mulut sang Jenderal TNI 'bintang satu'."Diam... Saya bilang diam..." Teriakan sang Jenderal menghangatkan situasi dan mengheningkan situasi sesaat sebelum kemudian ungkapan membalas intervensi itu keluar dari tengah-tengah kerumunan puluhan pers yang hadir.Sang Jenderal 'bintang satu' itu adalah Danrem 031/Wirabima Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto. Dia juga menjabat sebagai Komandan Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau.Gubernur Riau Annas Maamun menurut dia adalah tamu spesial yang harus dihormati. "Untuk mendatangkan beliau (gubernur) ini sangat susah. Begitu banyak yang ingin ketemu dan mari sama-sama kita menghargai beliau ini," kata Prihadi.Dia yang kemudian meminta puluhan wartawan untuk keluar dari ruangan sempit yang menjadi Posko Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau itu.       BuntutnyaKegaduhan itu berujung dimulainya aksi protes kalangan pers terhadap pola kepemimpinan Annas Maamun yang dianggap otoriter. "Saya paling tidak senang mendengar intervensi terhadap pers," kata jurnalis yang telah membentuk kerumunan massa siang itu.Mereka bergerak menuju gadung megah yang berhadapan dengan tugu zapin, peninggalan 'Bapak Pembangunan Riau', sebutan mantan Gubernur Rusli Zainal yang kini mendekam di sel penjara usai divonis 14 tahun kurungan oleh majelis hakim sebagai akibat korupsi.Puluhan wartawan itu menduduki tiap anak tangga berlapis karpet merah yang mewah. Mereka membawa sejumlah spanduk mini penuh dengan coretan kalimat mengkritik bahkan 'mencibir' sang gubernur.Pers berteriak tentang kebebasan, meski ketika itu ruang lapang telah memberikan kebebasan untuk berorasi. 'Para pengawal-pengawal' gubernur berjaga-jaga, namun membujuk dengan kelembutan kata, tegur sapa dan salam peluk.Seorang pria yang mengenakan kain pengikat kepala, dia pers yang menuntut dengan berhias kata untuk seseorang yang kemungkinan menjadi 'Bapak Pembangunan Riau' ke dua. Dia memberikan "Pringatan" lewat pusi Wiji Thukul tentang penguasa dan rakyat."Jika rakyat pergi, ketika penguasa pidato. Kita harus hati-hati, barangkali mereka putus asa.Kalau rakyat bersembunyi, dan berbisik-bisik, ketika membicarakan masalahnya sendiri. Penguasa harus waspada dan belajar mendengarBila rakyat berani mengeluh, itu artinya sudah gawat. Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam.Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!" (Fazar.M)