PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Akreditasi guru dan sekolah menjadi hal yang dipertimbangkan oleh setiap orang tua jika ingin memasukan anak-anak mereka ke sekolah. Kualitas tenaga pendidik yang baik pun harus menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Namun, akreditasi sekolah ini perlu juga diwaspadai oleh pihak sekolah dan pihak orang tua. Sebab, tidak semua asesor yang datang ke sekolah merupakan petugas resmi dari Badan Akreditas Provinsi atau Nasional.

Hal itu disampaikan Anggota Badan Akreditasi Provinsi (BAP) Riau, Drs. Hasan Masri kepada para kepala sekolah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) dalam acara Workshop Akreditasi Sekolah yang diadakan oleh Tanoto Foundation dan Badan Akreditasi Provinsi (BAP) di Hotel Unigraha, Kompleks PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Pangkalan Kerinci, Riau, Rabu (10/6). Tanoto Foundation merupakan lembaga yang memayungi kegiatan social keluarga  terutama pendidikan yang didirikan oleh pemilik perusahaan bubur kertas dan kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Sukanto Tanoto dan istrinya, Tinah Bingei Tanoto.

''Akreditasi menjadi tolak ukur bagi sebuah sekolah apakah sekolah itu memiliki kualitas yang baik atau tidak berdasarkan poin-poin standar yang sudah ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional. Tetapi terkadang yang datang ke sekolah itu, adalah asesor yang tidak resmi atau bukan petugas dari kami. Asesor siluman ini yang harus diwaspadai oleh bapak dan ibu guru atau kepala sekolah,'' kata Hasan.

Oleh karenanya, lanjut Hasan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah dan guru saat asesor datang. Diantaranya, dua dokumen yang dibawa dan ditunjukkan oleh asesor. "Saat kunjungan asesor, tanya surat tugasnya dari BAP karena asesor siluman tidak punya surat tugas resmi. Kemudian dokumen lainnya adalah kartu kendali validasi dan visitasi yang diisi kepala sekolah dalam sebuah amplop yang tertutup. Ini harus diketahui karena banyak asesor yang melakukannha tidak benar," ujar hasan.

Selain mendapatkan pemahaman mengenai asesor siluman, para peserta workshop yang terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas guru dari setiap kecamatan di wilayah operasional RAPP itu juga mendapatkan penjelasan mengenai tips dan strategi untuk menyiapkan akreditasi sekolah.

''Akreditasi harus disiapkan sebaik mungkin karena banyak dokumen yang harus diberikan. Salah satu triknya, lebih baik dibentuk tim akreditasi agar tahu siapa saja yang bertanggung jawab atas dokumen yang harus diserahkan," katanya.Disampaikan Hasan, setiap sekolah harus melakukan akreditasi setiap 5 tahun sekali agar kualitas sekolah bisa terus ditingkatkan. ''Poin akreditasi ini ada 157 butir yang tertuang dalam 8 standar akreditasi. Setiap sekolah harus memenuhi standar itu agar bisa mendapatkan akreditasi yang baik,'' ungkapnya.

Hasan pun mengapresiasi kegiatan workshop yang diadakan oleh Tanoto Foundation karena sangat bermanfaat agar guru-guru mengetahui standar yang harus mereka capai agar sekolah yang ada di Provinsi Riau mampu meningkatkan kualitasnya berdasarkan indikator-indikator yang sudah ditetapkan oleh BAN Pusat.

''Acara ini sangat baik sekali karena masih banyak guru-guru yang masih belum paham mengenai pentingnya akreditasi dan dokumen-dokumen yang harus disiapkan. Semoga dengan acara ini, mereka bisa menyiapkan dokumen akreditasi dengan lebih mudah," tuturnya.

Salah satu peserta workshop, Satrawati (45), mengaku merasa sangat senang bisa memiliki kesempatan mengikuti workshop akreditasi sekolah Tanoto Foundation.  Sebab, persiapan akreditasi yang kurang bisa menyebabkan hasil akreditasi tidak maksimal.

''Saya sangat senang bisa ikut workshop ini karena bisa menambah wawasan saya mengenai akreditasi sehingga bisa dilakukan lebih baik lagi. Terkadang kalau kurang persiapan, suka kalang kabut saat asesor datang," ujar guru SDN 011 Peranap itu.

Dia pun berharap, ilmu yang dia dapatkan dalam workshop dapat disampaikan kepada rekan kerjanya yang belum berkesempatan mengikuti workshop tentang akreditasi. "Saya berharap ilmu yang banyak ini, bisa saya tularkan dan sampaikan kepada teman-teman guru di SDN 011 Peranap yang tidak ikut workshop ini," ungkapnya.

Regional Program Manager Tanoto Foundation, Medi Yulva mengemukakan, workshop ini diikuti 132 orang yang terbagi dua hari yakni Selasa (9/6) dan Rabu (10/6) dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada kepala sekolah dan guru mengenai pembelajaran dalam proses akreditasi sekolah. 

Selain itu, lanjut Medi, melalui workshop ini, sekolah dampingan Tanoto Foundation mampu menyiapkan instrumen akreditasi yang memuat 8 standar nasional pendidikan dengan lebih baik. "Semoga workshop ini bisa membantu meningkatkan mutu guru dan akreditasi sekolah dampingan Tanoto Foundation agar sesuai dengan standar yang berlaku," ungkapnya.

Mewakili manajemen RAPP, Kepala Yayasan Kerinci Citra Kasih, Jansen Widianto, berharap kepala sekolah dan guru mampu menjadikan workshop ini sebagai sarana bagi mereka untuk mempertajam kemampuan mereka menyiapkan akreditasi sehingga sekolah tempat mereka mendidik menjadi sekolah yang bermutu.

''Pepatah mengatakan alangkah baiknya menanam pohon 20 tahun lalu supaya sekarang bisa dapat hasilnya. Tapi tidak juga terlbag menanam hari ini untuk dituai kemudian hari. Semoga dengan workshop ini sekolah-sekolah dampingan Tanoto Foundation bisa menjadi nomor satu. Harus bisa lebih dari standar," ucap Jansen. (rls)