JAKARTA – Berbulan-bulan aparat memburu namanya, tetapi Dewi Astutik selalu lebih dulu menghilang. Ia berpindah negara, mengubah penampilan, dan meninggalkan jejak samar yang membuat aparat seperti mengejar bayangan. Kini, perempuan yang disebut mengendalikan penyelundupan sabu Rp5 triliun itu tak lagi bisa berlari. Pelarian panjangnya berakhir di sebuah sudut Sihanoukville, Kamboja.

Dewi bukan buron biasa. Namanya pertama kali masuk daftar pencarian orang (DPO) pada 2024. Namun baru pada 2025, publik menyadari besarnya skala aktivitasnya. Ia diduga berada di balik penyelundupan dua ton sabu—nilai yang setara dengan meruntuhkan masa depan puluhan ribu anak muda Indonesia—melalui perairan Karimun, Kepulauan Riau.

“Dewi Astutik memiliki keterkaitan dengan puncak jaringan,” ujar Komjen Marthinus Hukom, kala itu Kepala BNN, dalam konferensi pers di Batam (26/5).

Perannya terungkap dari pengakuan empat WNI yang ditangkap di lokasi penyelundupan. Dari sana, terkuak pula tokoh lain: Chancai, warga Thailand yang menjadi buron negaranya sendiri. 

Ketika jaringan itu mulai runtuh satu per satu, Dewi memilih jalan pelarian. Dari satu negara ke negara lain, jejaknya hanya terlihat sekelebat. Bagi penyidik, ia seperti bayangan yang selalu lolos sebelum tangan berhasil meraih.

Namun kepungan koordinasi internasional perlahan mempersempit ruang geraknya. Ketika BNN mulai mengendus keberadaannya di Kamboja, operasi lintas batas digerakkan. Interpol dan BAIS terlibat, memastikan Dewi tak memiliki celah untuk kembali menghilang.

Penangkapan itu berlangsung pada Senin (1/12). Tidak ada pelarian dramatis, tidak ada perlawanan. Hanya seorang perempuan yang kehabisan tempat untuk bersembunyi.

Keesokan harinya, Selasa (2/12) malam, Dewi tiba di Jakarta. Tangan terikat, wajahnya tertunduk, dan langkahnya dikawal ketat oleh petugas BNN. Kamera wartawan menangkap momen itu—tanda bahwa salah satu buron paling licin di Asia Tenggara akhirnya kembali ke tanah tempat ia harus mempertanggungjawabkan semuanya.

Kini, penyidik menelusuri siapa saja yang berdiri di belakang Dewi, bagaimana jaringan itu beroperasi lintas negara, dan berapa banyak nyawa yang hampir hancur karena narkoba yang ia kendalikan. Pelariannya memang berakhir, tetapi penyidikan terhadap jaringan yang ia pimpin baru dimulai.

Bagi aparat, ini bukan hanya penangkapan. Ini adalah langkah besar memutus simpul kejahatan internasional yang selama ini bersembunyi di balik ombak laut perbatasan dan lorong-lorong negara asing. ***